Senin, 21 Desember 2009

Eight Habits for Higly Effective Credit Union Member


Terbersit salah satu lontaran yang diungkapkan oleh pihak manajemen Kopdit Melati dalam Evaperca 2009 yang berlangsung pada akhir November lalu, bahwa salah satu hal yang selalu dikedepankan oleh gerakan kopdit ialah mendorong perubahan perilaku anggota-anggotanya. Perubahan perilaku yang dimaksud ialah insan-insan kopdit semakin mampu dalam mengelola ekonomi keluarganya dalam upaya mewujudkan kesejahteraannya serta semakin mantap dalam berkopdit, rajin menabung, rajin mengangsur, meningkatkan kapasitas dirinya, serta rajin mewartakan kopdit sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan ekonominya.


Terinspirasi oleh “Seven Habits of Highly Effective People” (7 kebiasaan efektif untuk orang-orang efektif) yang dicetuskan oleh Stephen Covey dan kini telah menjadi “Eight Habits” (8 kebiasaan), insan-insan kopdit pun dapat menjadikannya sebagai acuan untuk membentuk dirinya menjadi lebih baik sebagai anggota kopdit.


Jadilah proaktif (be proactive). Hidup Anda dikendalikan oleh diri Anda sendiri, bukan oleh orang lain. Jika ingin hidup sukses, maka niatan itu harus berawal dari diri sendiri dan harus dimulai sekarang. Pikirkan apa yang harus dan bisa Anda lakukan sebagai insan kopdit untuk mencapai kehidupan yang sukses. Pertimbangkan apa saja sumberdaya yang bisa dioptimalkan di sekitar Anda, termasuk di dalam kopdit tentunya.


Mulailah dengan akhir pikiran (begin with the end in mind). Selalu berpikir mengenai tujuan akhir terlebih dulu, baru pikirkan cara dan langkah untuk mencapainya. Tujuan utama kopdit dan semua anggotanya ialah mewujudkan kesejahteraan bersama. Kesanalah kita hendak melangkah. Tujuan besar ini hendak dicapai dengan cara apa? Menabung? Meminjam? Berinvestasi? Berwirausaha? Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?


Dahulukan yang utama (put first things first). Insan kopdit perlu mempertimbangkan apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya. Dengan kata lain, cermatilah mana yang menjadi “kebutuhan” dan mana pula “keinginan”. Tempatkan kebutuhan sebagai prioritas, baru berpikir soal keinginan.


Berpikir menang-menang (think win-win). Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya. Berpikirlah bahwa ada orang lain yang juga ingin sukses. Bagaimana agar Anda sukses, orang lain juga ikut sukses. Contoh konkret dalam kopdit, berdisiplinlah dalam menabung dan mengangsur, karena aliran uang itu juga akan dimanfaatkan oleh sesama anggota lainnya untuk mencapai tujuan hidupnya pula. Kopdit adalah sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama, tidak sekadar kesejahteraan individu.


Berusahalah memahami sebelum minta dipahami (seek first to understand and then to be understood). Manusia dianugerahi dua telinga dan satu mulut karena Tuhan menginginkan manusia untuk lebih banyak mendengarkan daripada didengarkan. Amatilah selalu kondisi di sekitar sebelum mengambil keputusan. Pahami kesepakatan bersama yang dibuat oleh seluruh anggota kopdit sehingga itu bisa menjadi landasan dasar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Saling mengkritisi secara konstruktif juga menjadi bagian dari upaya pengembangan diri maupun kelembagaan kopdit secara keseluruhan.


Bersinergilah (synergize). Insan kopdit memiliki kewajiban moral untuk peduli pada perkembangan kopditnya. Jika kopdit sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bersama berkembang, maka secara alami anggota pun akan merasakan dampak positifnya. Jadi, janganlah selalu berpikir apa yang bisa diberikan kopdit untuk Anda, tapi berpikirlah juga tentang apa yang bisa Anda berikan untuk kopdit sesuai dengan kompetensi Anda. Sinergikan kekuatan Anda dan kopdit, lalu lihat apa yang bisa diwujudkan. Ingatlah, kopdit adalah milik kita bersama, bukan milik pengurus atau manajemen semata.


Asahlah gergaji Anda (sharpen the saw). Guru terbaik tidak hanya ditemukan di kelas-kelas atau ruang-ruang kursus. Guru-guru terbaik juga dapat ditemui di “universitas kehidupan” yang terbentang luas di depan mata. Melalui kopdit, para anggota didorong untuk mengembangkan diri melalui program-program pendidikan. Namun diluar itu mereka juga harus memiliki motivasi besar sebagai “manusia pembelajar”. Ingatlah, bahwa belajar itu dimulai sejak dari kandungan hingga menjelang masuk liang kubur. Belajar untuk apa? Untuk mengembangkan diri kita dalam banyak hal. Mengembangkan diri untuk apa? Untuk semakin meningkatkan kualitas hidup kita.


Temukan visi Anda dan doronglah orang lain untuk menemukan visinya (find your vision and inspire others to find their vision). Bersyukurlah pada Sang Pemberi Hidup, bahwa Anda masih diberikan kesempatan untuk bergabung dalam gerakan kopdit yang memiliki tujuan mulia. Sudahkah Anda membagikan pengalaman yang sangat berharga ini kepada orang lain dimanapun Anda berada? Menjalankan Member Get Member (AMAL: Anggota Mencari Anggota Lain) tidak sekadar karena ada dorongan memperoleh insentif, melainkan karena itu merupakan bagian dari dakwah kehidupan alias berbagi kebaikan kepada orang lain. Bukankah itu wajib hukumnya?

Rumusan “Eight Habits” terlihat sangat sederhana. Tapi menjalankan tidaklah semudah membaca dan memahami. Mari mencoba menempa diri sebagai insan-insan kopdit yang tangguh, memberikan diri untuk diri, keluarga, lingkungan, serta kopdit tempatnya bergabung dalam mencapai tujuan yang lebih besar dan mulia.


Selamat menyongsong sukses di tahun 2010.




Artikel ini dimuat di Buletin Kopdit Melati edisi 9/Th. X 17 Nov - 17 Des 2009

Udara: Kerelaan untuk Memberi

Hasta Brata Ekonomi Keluarga (8)
Oleh: Ditto Santoso


Indonesia adalah negeri yang rawan bencana! Kesadaran itu mulai menyeruak di reluang hati masyarakat Indonesia manakala gempa dahsyat disusul tsunami meluluhlantakkan Aceh. Berbagai gerakan untuk menyalurkan bantuan datang sambung-menyambung. Tak hanya bantuan berupa dana dan barang, ratusan bahkan mungkin ribuan orang turun tangan sebagai relawan untuk turut membantu masyarakat memulihkan diri pasca bencana.

Dorongan untuk memberi atau berbagi dengan sesama yang membutuhkan merupakan dorongan alami yang muncul dari dalam lubuk hati manusia. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia yang umumnya religius ini juga didorong oleh ajaran agamanya untuk berbuat demikian. Dalam ajaran kristiani, umat diajarkan untuk berbagi dalam bentuk perpuluhan, kolekte, atau aksi puasa menjelang Paskah. Sedangkan dalam ajaran Islam, umat juga didorong untuk menyisihkan sekian persen dari pendapatannya, karena itu merupakan hak dari orang miskin.


Lho, bagaimana harus memberi jika keluarga kita sendiri masih dilanda kesulitan ekonomi? Argumen ini sering mengemuka ketika kita dihadapkan pada dorongan untuk berbagi. Namun mudah pula dipatahkan, karena untuk memberi tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar, untuk bisa memberi tidaklah harus kaya. Pernahkah Anda memperhatikan kisah seorang anak seusia sekolah dasar yang datang ke kantor sebuah media yang sedang menyalurkan dana bantuan kemanusiaan? Ia membawa celengannya yang berisi tabungan yang dikumpulkan dari uang recehan sisa jajan. Ia menyatakan ingin membantu orang yang sedang ditimpa bencana alam. Betapa mulianya hati anak itu. Mengingatkan pada pernyataan reflektif almarhumah Bunda Teresa, seorang pegiat kemanusiaan yang memperjuangkan orang miskin di India, “Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal besar. Tapi setiap orang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”


Bukankah dengan memberikan sesuatu untuk orang lain justru akan mengurangi keuntungan yang sedang kita kumpulkan? Pertanyaan tersebut juga akan memprovokasi benak kita. Seorang penulis, pendidik, serta perintis penyembuhan holistik bernama Dheepak Chopra, dalam bukunya berjudul “The Seven Spiritual Laws of Success” (“Tujuh Hukum Spiritual menuju Sukses”, 1994), menyatakan bahwa hukum spiritual kedua yang perlu dipatuhi agar seseorang mencapai kesuksesan hidup ialah the law of giving (hukum memberi) atau bisa juga disebut "the law of giving and receiving" (hukum memberi dan menerima). Menurut Chopra, kehidupan merupakan suatu aliran dari berbagai energi. Menghentikan aliran energi kehidupan sama halnya dengan menghentikan aliran darah dalam tubuh manusia. Ketika darah berhenti mengalir atau membeku, kita bisa menebak, apa yang terjadi pada diri manusia itu.

Dalam ikhtiar untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, “uang” dapat dipandang sebagai sebuah energi kehidupan. Kita semua setuju bahwa bekal utama hidup berkeluarga adalah cinta. Tapi dalam operasional keluarga sehari-hari uang menjadi unsur penting. Jika uang juga sebuah energi kehidupan, maka “menimbun” atau “menahan” uang untuk semata-mata memenuhi keinginan pribadi tanpa menyalurkannya sama halnya dengan menghentikan aliran energi kehidupan yang seharusnya mengalir keluar dan nantinya akan kembali lagi pada diri kita. Untuk menjaga agar energi tetap mengalir dan kembali lagi pada diri kita, energi itu harus tetap mengalir. Energi itu harus kita berikan kepada orang lain agar nantinya juga akan kembali pada diri kita. Semakin banyak energi disalurkan, makin banyak pula energi yang akan kembali.


John M. Huntsman, seorang usahawan yang memperoleh banyak penghargaan internasional (lulusan terbaik Wharton University; 1994: Kaveler Award untuk CEO terbaik di industry kimia; 2001: Entrepreneur of the Year; 2003: penghargaan kemanusiaan dari Larry King-CNN), bisa menjadi contoh tentang bagaimana dengan memberi ia menerima lebih banyak. Ia sudah memiliki mentalitas member sejak masih bergumul sebagai seorang penjual telur yang sederhana. Semakin besar penghasilannya, semakin besar pula ia memberi. Ia telah menyumbangkan 225 juta US dolar untuk lembaga yang menangani penyakit kanker dan 50 juta US dolar untuk bidang pendidikan. Kebiasaan memberi yang dilakukan Huntsman membuahkan hal-hal positif bagi dirinya, meskipun tidak berbentuk uang. Hal terpenting yang diperolehnya ialah dukungan dan bantuan dari banyak orang, terutama mereka yang telah menerima pertolongan darinya, baik dalam bentuk moral maupun finansial.


Unsur alam kedelapan dalam rangkaian tulisan Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ialah “udara”. Udara merupakan unsur alam yang memenuhi permukaan bumi ini. Ia tidak tampak dan tidak disadari keberadaannya, tapi dapat dirasakan manfaatnya. Seperti halnya mengelola keuangan keluarga, udara pun memberikan dirinya untuk dihirup oleh manusia. Saat manusia bernafas, ia menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Karbon dioksida menjadi sumber energi kehidupan bagi tanaman untuk tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Hasil dari tanaman itu pulalah yang akan dimanfaatkan oleh manusia. Jika orang menjadi sejahtera dari segi finansial, maka jangan lupakan untuk membagikan energi kehidupan yang dimiliki agar alirannya tetap mengalir. Jadilah “udara” yang selalu memberikan dirinya untuk segenap makhluk ciptaan Tuhan di bumi ini.



Artikel ini dimuat di Buletin Kopdit Melati - Depok edisi 9/Th. X, 17 Nov - 17 Des 2009

Selasa, 01 Desember 2009

Langit: Saatnya Berpikir Luas

(Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ke-7)

Oleh: Ditto Santoso



Suatu hari di tahun 2039…


Lewat tengah hari, Pak Tono tampak melangkahkan kaki di atas trotoar jalan di kompleks perumahan tempat tinggalnya yang dikenal sangat asri di kotanya. Penampilannya yang sederhana dilenglapi oleh setelan jas model lama yang dipopulerkan 2 tahun lalu. Ia mengepit sebuah tas kulit tua yang isinya berupa dokumen-dokumen yang dia perlukan hari itu. Laki-laki pensiunan itu memang baru saja kembali dari bank untuk mengambil uang pensiun bulanannya. Antri di bank betul-betul melelahkan meskipun sistem transfer rekening sudah diterapkan, masih banyak orang yang suka antri di bank. Sambil bercengkrama dengan sesama pensiunan lainnya.


Berbelok ke sebuah jalan, Pak Tono melewati sebuah rumah yang rindang. Merdu terdengar suara kicau burung perkutut yang saat ini sudah langka. Sekarang ini orang lebih suka mendengarkan suara perkutut dalam bentuk rekaman audio digital yang bisa dipasang di radio maupun di tape pada mobil. Benar-benar langka kalau ada yang masih memeliharanya di tahun 2039. Tersadarlah Pak Tono. Itu rumah Pak Banu, sahabat sejak muda sekaligus tetangga beda RW.


“Pak Tono, mampir, Pak,” terdengar suara dari arah rumah. Tampak seorang laki-laki seusia Pak Tono sedang asyik duduk di teras rumah sembari membuka laptop. “Lama kita ngga ketemu nih…”


Masuklah Pak Tono ke halaman rumah Pak Banu yang asri. Pak Banu langsung menyambut dan memeluk sahabatnya itu. Tampaknya memang cukup lama mereka saling tidak bertemu. Pak Banu pun mempersilakan Pak Tono masuk dan bergabung dengannya di teras rumah yang dinaungi oleh suasana asri dan udara yang segar. Mereka pun saling bertanya kabar keluarga masing-masing dan mulai berbincang-bincang mengenai banyak hal.


“Kok Pak Banu di rumah saja? Tidak ikut antri ambil uang pensiun di bank?” tanya Pak Tono setelah menyeruput teh manis yang dihidangkan oleh Bu Banu.


Pak Banu pun tertawa kecil. “Nyante aja kalee’, Pak. Soal uang pensiun diambil belakangan juga bisa, mau transfer pun bisa,” katanya. “Saya tidak terlalu mengandalkan uang pensiun itu untuk hidup sehari-hari. Saat ini saya hanya menikmati jerih-payah yang sudah kurintis sejak 30 tahun lalu.”


Pak Tono pun mengernyitkan keningnya pertanda kurang mengerti. Setahunya, Pak Banu sama seperti dirinya. Sekian puluh tahun bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Waktu pensiunnya pun hamper bersamaan. Tapi memang ia agak bingung juga melihat Pak Banu begitu menikmati hidup. Sekali waktu menengok anak-cucunya di luar pulau. Di lain waktu mengajak istrinya berlibur ke tempat yang jauh yang dimata Pak Tono itu bakalan menghabiskan uang pensiun yang dimiliki. Atau jangan-jangan Pak Banu punya “resep rahasia”?

“Tiga puluh tahun lalu saat saya sudah memasuki masa kerja hampir 10 tahun lamanya, saya tersadar bahwa hidup ini penuh dengan risiko,” kata Pak Banu. “Saat itu, saya punya 3 anak. Istri saya tidak lagi bekerja karena ingin berkonsentrasi merawat anak di rumah. Maklumlah, kalau di tahun 2039 ini pembantu rumah tangga berbentuk robot yang canggih, di zaman 30 tahun lalu kan belum ada. Jadi kami tidak mau anak kami dirawat oleh pembantu rumah tangga.”


Pandangan Pak Banu menerawang jauh seolah mengenang kisah hidupnya yang penuh dengan perjuangan. “Saya sadar bahwa saya tidak bisa mengandalkan pendapatan dari 1 sumber saja, karena sangat riskan. Maklumlah, gaji sebagai karyawan pada waktu itu kan kecil.”

Pak Tono manggut-manggut mendengarkan kisah sahabatnya itu dengan seksama.


“Saya membaca sebuah artikel di buletin koperasi kredit tempat saya menjadi anggota. Isinya tentang Hasta Brata dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Salah satu brata yang dimaksud ialah langit. Cobalah kita melihat langit itu,” kata Pak Banu sembari mendongakkan kepalanya melihat langit biru di atas sana. Pak Tono pun mengikuti dengan melihat langit di atas. Ia berpikir, apa yang diperoleh dari langit itu oleh Pak Banu. Hujan uangkah?


“Langit amat luas. Tak berbatas. Di sana kita bisa temukan berbagai benda angkasa yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya. Banyak sekali hal yang bisa ditemukan disana,” lanjut Pak Banu kemudian. “Terinspirasi oleh langit, saya mencoba berpikir terbuka. Berpikir keluar dari kotak. Bahasa kerennya, thinking out of the box. Saya berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko karena hanya memiliki 1 sumber penghasilan. Coba pikir, mana bisa keluarga kami bertahan dengan penghasilan segitu-gitu saja.”


Pak Banu menyeruput teh buatan istri tercintanya. “Saya berbicara dengan istri saya untuk membuat strategi peningkatan pendapatan. Istri saya pun berupaya membuat warung kecil-kecilan. Modalnya diperoleh dari pesangon yang diperolehnya. Sementara saya berpikir untuk mencari jenis-jenis investasi yang menguntungkan. Mengapa investasi? Karena saya pikir, waktu saya sudah tersita banyak untuk bekerja. Lalu, di luar waktu kerja saya harus meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Lha kalau saya kerja lagi, kapan kumpulnya dengan anak-istri?”


Lagi-lagi Pak Tono manggut-manggut. “Bener juga yach… dulu saya tidak terpikir untuk itu. Saya pikir uang pensiun dari perusahaan dan Jamsostek sudah cukup. Padahal biaya hidup sekarang kan sudah jelas lebih tinggi daripada 30 tahun lalu.”


“Ibarat langit yang luas, saya juga mencoba berpikir luas. Akhirnya saya temukan beberapa pilihan untuk berinvestasi untuk keperluan hari tua, meskipun perusahaan sudah memfasilitasi dengan adanya dana pensiun dan Jamsostek. Pertama, ada tabungan hari tua yang diprogramkan oleh koperasi kredit. Setiap menerima gaji, saya langsung sisihkan dana untuk tabungan ini. Kedua, saya mencoba menggunakan instrumen keuangan lain yang relatif aman dan terjangkau, misalkan deposito dan reksadana. Ketiga, saya join dengan adik saya yang lulusan farmasi membuat sebuah apotek kecil pada waktu itu. Apotek itu sekarang sudah berkembang dengan menyediakan praktek dokter dan laboratorium, serta sudah memiliki beberapa cabang.”


“Modalnya?” tanya Pak Tono lagi.


“Saya kan anggota setia koperasi kredit. Saya meminjam hanya untuk keperluan produktif, yaitu untuk investasi dan usaha.”


“Ck ck ck…” Pak Tono terheran-heran. “Luarrr biasa! Sungguh Pak Banu seorang yang visioner. Selama ini saya pikir Pak Banu hanya orang yang rajin ke kantor saja. Rajin tapi penghasilan rata-rata saja.”


“Hahaha! Saya kan juga tidak ingin menjadi karyawan ‘BP7’, Pak…” Pak Banu tertawa.


“Apa itu ‘BP7’?”


“Berangkat Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan sampai rumah Pingsan Pula!”


Tawa kedua sahabat itupun berderai.


Sungguh perjumpaan dengan Pak Banu hari itu membuat Pak Tono luar biasa terinspirasi. Mungkin sudah terlambat baginya, namun tidak buat anak-anaknya yang sedang merintis karier dari nol saat itu. Ia akan membagikan kisah sukses Pak Banu itu bagi anak-anaknya di rumah. Bahwa untuk bisa menghadapi tantangan kehidupan ekonomi keluarga, kita perlu berpikir keluar dari kotak dan mencari terobosan-terobosan baru. Peluang akan selalu ada dan menanti untuk ditemukan!



Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok edisi no. 5 / Tahun X (17 Juli - 17 Agustus 2009)





Api: Tegas Melawan Diri

(Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ke-6)

Oleh: Ditto Santoso



Akhir pekan itu Pak Bondet dan istrinya pergi melancong ke salah satu mall yang ada di kotanya. Masuklah pasangan itu ke dalam sebuah gerai perbelanjaan yang menjual segala macam perlengkapan rumah tangga, mulai dari baju-baju hingga alat-alat dapur. Pokoknya super lengkap. Berjalanlah mereka berdua dengan santainya sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba…



“Wuihh, Pak!” kata Bu Bondet setengah berteriak sambil menunjuk ke satu arah. “Lihat ada diskon 70% untuk pembelian wajan anti lengket!”



Pak Bondet yang terkejut mencoba memicingkan mata dan melihat yang dimaksud oleh istrinya. Ternyata benar. Ada rak berisi panci dan wajan antilengket yang sedang memasang tulisan diskon besar-besaran.



“Beli dongngng…” rajuk Bu Bondet. “Mumpung lagi ada diskon nihhh…”



Jreng, jreng, jreng! Walhasil masuklah sepasang suami-istri itu ke dalam toko yang sedang memasang diskon besar itu. Sejurus kemudian mereka sudah keluar dari toko itu dengan wajah yang berseri-seri dengan wajan yang masih kinclong di tangan.



Apa yang bisa dipetik dari cerita singkat ini? Bapak dan Ibu Bondet terpesona dengan unjuk diskon. Padahal, belum tentu wajan yang ditempeli label diskon itu menjadi kebutuhan mereka. Bisa jadi itu hanyalah keinginan sesaat. Oleh para perencana keuangan keluarga, ini disebut “lapar mata” atau “lapar diskon”. Lantas, bagaimana membentengi diri terhadap bentuk-bentuk rayuan yang bisa menggoyahkan sendi-sendi keuangan keluarga ini?



Pengendalian diri menjadi kunci dari dalam diri sendiri untuk tidak mudah termakan rayuan-rayuan dari luar yang berakibat pada terganggunya keuangan keluarga. Filosofi “api” dalam Hasta Brata memberikan pelajaran berharga bagi manusia untuk berani bersikap tegas dan disiplin tidak hanya kepada hal-hal di luar dirinya, melainkan juga didalam dirinya. Kita harus berani berkata “tidak” ketika ada hal-hal diluar kebutuhan tapi sangat provokatif merayu untuk dibeli. Pada zaman yang sangat konsumeristik ini banyak hal yang membuat kita tergoda untuk membuka dompet. Misalnya trend HP model terbaru, sepeda motor merk terbaru, trend model baju, dan lain-lain. Ibarat api, jika tidak tegas, api pun akan “membakar” diri sendiri.



Perwujudan filosofi api diwujudkan dalam perilaku “4D” atau“Empat Disiplin” dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Pertama, disiplin perencanaan. Proses pengelolaan ekonomi keluarga akan berjalan efektif bila tahu tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Disinilah proses perencanaan anggaran keluarga dibutuhkan. Karena anggaran akan menjadi pedoman untuk menjalankan roda pengelolaan ekonomi keluarga.



Disiplin pelaksanaan adalah bentuk disiplin kedua yang perlu diperhatikan. Ada rencana anggaran yang bagus, tapi pada saat pelaksanaan kita tidak lagi disiplin karena mudah tergoda untuk memenuhi keinginan daripada kebutuhan. Akibatnya, terjadi kebocoran anggaran disana-sini. Hal lain yang bisa mengganggu disiplin pelaksanaan ialah tidak konsisten dengan jadual yang dibuat. Misalkan, kegiatan menabung yang bisa dilakukan di awal bulan saat gaji baru diterima, malah ditunda hingga akhir bulan. Biasanya, pada akhir bulan jumlah uang yang akan ditabung sudah berkurang karena terpakai untuk membeli hal-hal lain.



Yakinkah kita bahwa pengeluaran yang sudah dilakukan masih sejalan dengan alokasi yang direncanakan sebelumnya? Tentunya kita harus rajin memantaunya. Disini diperlukan disiplin monitoring. Bagaimana cara melakukan monitoring? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, bila memiliki kartu ATM dan memiliki kebiasaan mengambil uang di ATM, jangan lupa untuk selalu mencetak transaksi di buku rekening untuk mengetahui arus uang keluar dari rekening. Kedua, bila menyimpan uang tunai di rumah, pisahkan dalam amplop-amplop terpisah dimana setiap amplop berisi uang dan ditujukan untuk pos-pos besar tertentu, misalkan belanja bulanan, kesehatan, uang sekolah, biaya PLN/PDAM, dan lain-lain. Bisa juga dilakukan dengan cara lain, membagi atas pos pengeluaran tetap dan tidak tetap dalam 2 amplop. Ketiga, membagi fungsi pengelolaan uang keluar dan lakukan transparansi untuk bisa saling periksa. Misalkan, ayah bertugas memegang dana untuk pendidikan anak dan dana operasional rumah (listrik, air, angsuran rumah), sementara ibu memegang dana untuk pengelolaan dapur (belanja harian/bulanan) dan sosial (iuran RT, arisan, masjid). Keempat, membuat jurnal pengeluaran harian dan memantau arus keluar-masuk uang. Masih ada banyak hal lagi yang bisa dilakukan untuk memonitor atau memantau. Tentu setiap keluarga memiliki kreativitasnya masing-masing.



Disiplin berikutnya ialah disiplin evaluasi. Secara berkala keluarga perlu melakukan evaluasi atas rencana dan realisasi keuangan keluarga. Dari evaluasi tersebut, keluarga bisa merefleksikan atau memperoleh pembelajaran, sejauh mana efektivitas perencanaan keuangannya, sejauh mana pula tujuan-tujuan keuangan bisa dicapai dan bagaimana proses pencapaiannya, apakah lebih banyak terjadi penyimpangan ataukah sejalan dengan yang direncanakan.



Sekarang pertanyaannya, berani atau tidakkah kita bersikap disiplin dan tegas terhadap diri kita sendiri? Itu dulu yang harus dijawab.



Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 4/Tahun X (17 Juni-17 Juli 2009)

Jumat, 10 Juli 2009

THR: Ngga Mesti Habis Kan?

Oleh: Ditto Santoso
“Tunjangan Hari Raya atau THR yang diterima seorang karyawan merupakan penghasilan rutin. Bukan penghasilan tidak terduga alias rejeki nomplok,” demikian seorang konsultan keuangan keluarga pernah berkata. Jadi, seharusnyalah ia menjadi bagian dari perencanaan keuangan rutin, bukan insidentil.

Dalam Permenaker No. 04/1994, disebutkan bahwa perusahaan wajib memberikan THR Keagamaan bagi karyawannya. Setiap karyawan menerimanya secara rutin per tahunnya dan jumlah yang diterima pun sudah ditentukan besarannya. Dengan “status” yang rutin diterima ini, seharusnyalah seorang karyawan sudah bisa merencanakan terlebih dulu, akan dimuarakan kemana dana itu.

Terlepas dari soal kehadiran THR ini signifikan atau tidak dalam keuangan keluarga, yang pasti pengelolaan dan penggunaannya perlu direncanakan terlebih dulu. Salah satu langkah awalnya adalah dengan membuat perencanaan penggunaan uang THR untuk melakukan “kewajiban internal”. Contohnya, memberikan THR kepada pembantu rumah tangga, sopir, keluarga dekat yang membutuhkan (ortu, saudara), atau bahkan berbagi kepada anggota masyarakat di sekitar tempat tinggal yang juga membutuhkan dana untuk berhari raya tetapi nasibnya kurang beruntung.

Berikutnya, janganlah lupa menyisihkan sebagian uang THR untuk ditabung sebagai dana darurat. Tabungan darurat ini memang bukan merupakan bentuk investasi, melainkan untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal yang kurang diinginkan selama masa hari raya. Contohnya, ada anggota keluarga yang sakit pada saat perjalanan mudik. Dengan demikian, bentuknya bisa berupa dana tunai yang bisa diakses sewaktu-waktu (dalam perjalanan atau ketika sedang berada di desa terpencil) atau yang tersimpan dalam rekening bank yang ATM-nya mudah ditemukan dimana-mana.

Anda juga perlu membuat daftar barang yang diperlukan pada saat hari raya. Seperti kue atau makanan ringan yang disajikan bagi sanak-keluarga atau relasi yang berkunjung ke rumah. Bahkan jika tidak sempat bersilaturahmi secara fisik, mungkin via berkirim kartu, SMS, atau email. Bukankah itu membutuhkan alokasi dana juga? Ingatlah untuk tidak “lapar mata” manakala berbelanja. Prioritaskan mana yang menjadi kebutuhan, dan mana yang hanya keinginan saja. Jika Anda juga bermaksud membeli barang-barang kebutuhan pokok, sebaiknya hindari berbelanja mendekati masa-masa hari raya, karena hampir dapat dipastikan harganya sedang terkerek naik.

Mungkin perlu menjadi masukan juga, bahwa saat menerima uang THR merupakan saat yang tepat pula untuk menutup atau paling tidak mengurangi kewajiban Anda. Kewajiban ini bisa berupa angsuran kredit atau tagihan-tagihan lainnya. Mengapa? Karena ketika Anda sedang berniat melakukan penghematan, maka gaji bulanan pun masih dapat dioptimalkan. Bukankah dalam bulan-bulan lainnya juga terjadi seperti itu? Janganlah menggunakan even hari raya sebagai momentum untuk kembali menambah hutang, dengan alasan modal untuk mudik.

Terakhir, jika masih terdapat kelebihan dari uang THR yang telah Anda belanjakan sesuai perencanaan yang Anda buat, sebaiknya manfaatkanlah sisa dana tersebut untuk ditabung atau diinvestasikan. Hari raya bisa Anda nikmati, kemerdekaan finansial pun kelak akan Anda nikmati juga. Anda setuju?


Dimuat dalam Buletin Info Bina Swadaya edisi 240/Tahun XX/November 2005 (diolah dari Tabloid Bisnis Uang No. 11 / 23 Desember 2004 - 5 Januari 2005)


Selasa, 30 Juni 2009

7 Jurus Pensiun Bergaya

Oleh: Ditto Santoso


Tidak semua orang bisa memasuki masa pensiunnya dengan mulus, meskipun pensiun itu terjadi secara normal, bukan pensiun dini atau memilih pensiun untuk berkarya sebagai wirausaha. Itulah kondisi yang sering ditemukan pada orang tua kita atau mungkin diri kita pada 5, 10, atau 20 tahun lagi. Masih banyak orang yang memandang “pensiun” merupakan akhir dari segalanya. Pensiun berarti tidak lagi bisa berkuasa (post power syndrome), pegang duit banyak, atau merasa jatuh status sosialnya.


Terlintas dalam benak saya. Bagaimana mengurangi kegamangan-kegamangan tersebut selagi masih jauh dari masanya. Kalau toh sudah berada pada masanya, mungkin bisa menyetel pola pikir dan hidupnya agar tetap positif dan dinamis hingga tetap bisa menikmati hidup. Untuk itu, lagi-lagi terlintas dalam benak saya sebuah gagasan yang dinamakan “pesantren”. Artinya, “pensiunan santai tapi sejahtera dan keren”. Sesudah pensiun, hidup bisa santai tanpa harus bersusah-payah bekerja, sejahtera jasmani-rohani, tetap terlihat keren. Bagaimana menjadi orang “pesantren” nantinya, terdapat setidaknya 7 jurus jitu yang disebut “7S”.


Syukur. Rasa syukur atas segala karunia Tuhan atas hidup ini merupakan dasar dari semua proses kehidupan. Bersyukur, ikhlas, menerima dengan ridha atas kehidupan terbaik yang sudah diberikan Tuhan. Mungkin kita perlu menengok ke sekeliling. Bukankah kita masih lebih baik dibandingkan mereka yang hingga tua hanya hidup di pinggir jalan atau mereka yang tua-kaya namun dipenjara karena korupsi?


Sadar. Rasa syukur perlu diimbangi dengan sebuah kesadaran bahwa hidup belumlah berakhir. Hidup di dunia fana ini baru berakhir pada saat Tuhan memanggil kita. Dengan demikian, masih ada (banyak!) hal positif yang mungkin bisa dilakukan. Misalkan: bersenang-senang dengan cucu, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi selama kita bekerja 30 tahun terakhir, bulan madu yang kesekian kalinya, atau apa lagi? Life still goes on


Setting. Bagi yang sudah pensiun, apa yang telah direncanakan untuk mengisi waktu luang? Bagi yang masih jauh dari pensiun, apa yang perlu dipersiapkan agar bisa menjadi orang “pesantren” ini? Jika saat ini kita masih dalam usia produktif, maka sangatlah positif jika sejak jauh-jauh hari sudah memiliki kesadaran untuk mempersiapkan masa-masa tersebut. Toh, kita tidak ingin membebani anak-cucu kita nantinya. Lho, bukankah perusahaan sudah memfasilitasi dana pensiun internal dan Jamsostek? Terima kasih bagi perusahaan yang sadar betul untuk menghargai kerja keras dan loyalitas karyawannya. Namun, akan jadi lebih baik, apabila kita juga memiliki alternatif lain di luar skema yang sudah disediakan oleh perusahaan. Apa bentuknya? Tentu saja bisa bermacam-macam. Artinya, kita sudah mempersiapkan hal-hal yang berpotensi menunjang kehidupan pensiun tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orang lain. Jurus ke-4 dan ke-5 akan berbicara mengenai hal-hal minimal yang perlu dipersiapkan sebagai alternatif selain skema dana pensiun perusahaan.


Saving. Apa yang sudah dipersiapkan secara finansial untuk menghadapi masa pensiun? Topik finansial merupakan topik yang selalu hangat dibicarakan pasca pensiun. Umumnya orang yang sudah pensiun merasa powerless (tidak memiliki daya), karena dia tidak memegang cukup uang untuk biaya hidup. Untuk itulah, selagi usia masih produktif, usahakan untuk selalu menabung. Buatlah skema tabungan tersendiri yang khusus bertujuan untuk mengumpulkan dana pensiun dan tidak akan pernah ditarik hingga saat pensiun. Carilah peluang-peluang untuk bisa memperbesar pilar tabungan. Dan Benson (2000), seorang konsultan keuangan, menyebutkan bahwa “menabung” adalah “suatu tindakan untuk menyisihkan uang untuk masa depan”. Menabung merupakan langkah awal menuju “investasi”, yaitu “membuat uang bertumbuh seiring waktu”. Pada jurus ke-4 ini, saya melekatkan “investasi” sebagai satu bentuk terobosan dari “tabungan konvensional”. Jadi, untuk menabung, tidak harus dibentukkan dalam tabungan harian biasa, melainkan juga bisa dalam bentuk-bentuk investasi seperti deposito, reksadana, atau asuransi (juga memiliki fungsi sebagai alat proteksi). Bingung? Cobalah berkonsultasi dengan konsultan perencanaan keuangan keluarga jika diperlukan. Namun, tantangan terbesar ialah membangun kebiasaan menabung itu sendiri. Saya meminjam istilah 3M dari A’a Gym, “Mulailah dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulailah sekarang”. So? Jika Anda masih dalam usia produktif, mulailah menabung untuk pensiun sekarang juga!


aSet produktif. Apa yang kita punyai untuk bisa bertahan hidup? Mobil? Sepeda motor? Gudang yang kosong? Cobalah tengok sekeliling. Adakah barang-barang yang bisa dioptimalkan fungsinya? Mungkin hari ini, kita melihatnya biasa-biasa saja. Tapi, suatu hari nanti, mungkin barang-barang itu menjadi amat sangat berharga. Mobil yang menganggur waktu pensiun tidak akan menghasilkan, kecuali jika “dikaryakan”. Misalnya dengan menggunakan mobil itu untuk berjualan (misal: berjualan kue dengan memanfaatkan kabin belakang mobil) atau sebagai mobil antar-jemput anak sekolah. Garasi yang tak terawat bisa disulap menjadi toko kecil, warung makan, atau tempat kursus Bahasa Inggris untuk anak-anak. Bagaimana pula dengan hobi yang masih digeluti, bisakah dioptimalkan untuk menghasilkan sesuatu yang produktif? Apa yang mungkin terjadi jika hobi menulis dikawinkan dengan peluang adanya teman yang bekerja di penerbitan? Apa hasilnya jika lahan kosong 100 m2 mulai dari sekarang dicicil untuk membuat rumah-rumah petak yang bisa dikontrakkan nantinya? Ternyata banyak sekali aset di sekitar kita yang ibaratnya “macan tidur” sedang menunggu untuk dibangunkan. Tengok kiri-kanan dan mulailah mencari.


Silaturahmi. Merasa tidak lagi berharga di mata teman-teman atau kerabat karena sudah menjadi pensiunan? Mari menjadikan masa pensiun sebagai tahap baru untuk menjalani hidup secara positif. Tetap gaul, karena silaturahmi konon merupakan satu cara untuk menyehatkan diri dan memperpanjang umur. Aktif dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan atau sosial-kemanusiaan juga merupakan salah satu cara untuk memperluas silaturahmi.


Sehat. Dan ujung-ujungnya adalah kesehatan. Apa maknanya pensiun yang merdeka secara sosial dan finansial jika tidak didukung oleh badan-jiwa yang sehat? Semuanya menjadi tak bermakna lagi. Dan memelihara kesehatan itupun, sebagaimana kita mempersiapkan kemerdekaan finansial saat pensiun, juga harus dicicil mulai sekarang.


Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan diri kita menjadi “orang pesantren”!
Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 3/Tahun X (17 Mei-17 Juni 2009)

Air

Hasta brata ekonomi keluarga (5)

Oleh: Ditto Santoso



Pria pertengahan tiga puluhan itu melangkah gontai melintasi pagar rumahnya. Ia berjalan ke arah perempatan yang tidak begitu jauh dari rumah tipe 36 huniannya 3 tahun terakhir bersama istri dan anaknya. Angin berhembus pelan mengiringi langkahnya. Dibarengi suara jangkrik dan sesekali terdengar lolongan anjing. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Malam Jumat kliwon.

Di warung itu tampaklah beberapa orang sedang duduk mengobrol sambil menikmati kopi.

“Yuk, Pak Suko. Gabung ngopi disini,” ajak salah satu yang sudah duduk disana. “Kok lesu banget? Lagi ribut sama ibunya anak-anak?”

“Lha iyalah… masak ya iya dong,” sahut pria lain yang duduk di sampingnya.

Pria yang bernama Pak Suko itupun duduk. Ia pun menghela nafas panjang. Sesaat kemudian ia memesan secangkir kopi. Sambil menyambar sepotong pisang goreng ia pun buka suara.

“Biasalah. Krisis rumah tangga. Mana istriku banyak menuntut beli ini-itu, padahal duit juga pas-pasan buat kebutuhan yang penting. Kan di masa krisis ekonomi seperti sekarang ini kita harus punya tabungan. Eee malah dia maunya beli ini-itu,” kata Pak Suko.

“Jadilah ribut terus hampir tiap hari. Tanggal muda tanggal tua sama saja,” lanjutnya lagi sembari menerima secangkir kopi pesanannya. “Jadi suntuk kalau di rumah. Mending nongkrong di sini saja.”


“Kenapa harus bersuntuk-suntuk dengan orang yang seharusnya bisa berbagi kesuntukan itu?” terdengar sebuah suara berat dan berwibawa dari sudut meja.


Semua yang nongkrong di warung itupun menoleh ke arah sumber suara. Di ujung sana tampak seseorang berambut panjang dan gondrong sebahu yang tengah duduk sambil memegang secangkir kopi. Ia menundukkan kepala sehingga rambut panjang terurai menutupi wajahnya. Di tengah lampu yang temaram tampak ia mengenakan baju surjan (baju lurik a la warga pedesaan di Jawa).


“Wah, Bapak ini siapa ya? Mohon maaf. Apakah saya kenal? Apakah Bapak tahu apa yang saya alami?” tanya Pak Suko setengah penasaran.


Orang berambut panjang itupun mendongakkan kepalanya. Rambutnya sedikit tersibak. Tampaklah ia berwajah bersih dengan kacamata bulat kecil bertengger di atas hidungnya. Jadi mirip dengan John Lennon saat the Beatles sedang ngetop dulu. Sejumput jenggot menghiasi dagunya. Usianya sepertinya antara 40-50 tahunan.


“Saya Ki Joko GP. Saya melihat bahwa Bapak ini punya masalah dengan istrinya,” kata orang berambut panjang itu pelan.


Pak Suko pun mengerutkan keningnya. Wah, orang pintar ini rupanya. Bisakah permasalahanku dipecahkan dengan bantuannya?


“Apa lagi yang Bapak tahu?” tanyanya kemudian. Orang lain yang sedang nongkrong di warung itu mulai memusatkan perhatian pada laki-laki beramput panjang yang bernama Ki Joko GP itu.


“Bapak yang baik, apakah yang Anda ributkan dengan istri itu perkara duit?” tanyanya.


“Betul, Ki Joko!” kata Pak Suko tegas. “Gaji saya yang tak seberapa ini baru naik sedikit saja, istri saya sudah minta macam-macam. Beli ini, beli itu. Padahal kan lebih baik ditabung dulu biar beranak-pinak yang banyak?!”


Sembari tersenyum Ki Joko GP mengelus jenggotnya.


“Kalau boleh mengira, pastilah Bapak tidak pernah menyampaikan ide Bapak itu sebelumnya kepada istri?” tanyanya kemudian yang ditanggapi oleh Pak Suko dengan anggukan pelan.


Ki Joko GP menarik nafas panjang. Ia kemudian menggeser segelas air putih yang ada di dekatnya ke arah yang lebih dekat dengan Pak Suko dan orang-orang yang duduk di sekitarnya.


“Lihatlah gelas ini. Lihatlah air didalamnya. Bening dan tenang,” kata Ki Joko GP. “Ketika orang memasukkan gula ke dalamnya, ia pun menerima. Ketika diaduk, air pun bercampur dengan gula. Hasilnya? Tentu saja rasanya manis.”


“Maksudnya, Ki?” tanya salah seorang pria disamping Pak Suko mulai antusias.


“Air adalah salah satu unsur alam yang bisa dipelajari dari Hasta Brata. Sifatnya yang cair, membuat ia sering menjadi media untuk melarutkan apa saja, misalnya teh, kopi, ataupun obat puyer. Karena sifat cairnya itulah, ia mudah berinteraksi dengan unsur-unsur alam lainnya.”


Ki Joko GP berhenti sejenak. Ia menyeruput wedang kopinya sebelum melanjutkan.


“Demikian pula halnya dengan berkomunikasi dengan pasangan hidup kita. Ibarat air, komunikasi pun harus bersifat cair. Mengapa? Agar ada ruang dimana salah satunya bisa mendengarkan yang lain. Bukankah inti dari komunikasi itu adalah mendengarkan?” katanya.

“Pengelolaan ekonomi keluarga pun harus dilandasi komunikasi positif antara suami-istri. Segalanya perlu dibicarakan bersama. Karena, keduanya setara dalam hal pengelolaan ekonomi keluarga. Kesetaraan itu, salah satunya diwujudkan dengan tidak adanya pembedaan. Misalnya, suami minta ‘jatah’ duit lanang atau uang laki-laki. Sementara istri tidak punya hak untuk itu.”


Semua seolah terpana dan memperoleh pencerahan dari laki-laki bernama Ki Joko GP itu.


“Air juga menjadi penyegar di kala kehausan. Kekeringan dalam keuangan keluarga pun dapat disegarkan manakala itu dikomunikasikan dengan baik pula. Suami akan paham dan istri pun akan mengerti. Ini semua bisa terwujud apabila terjadi komunikasi dialogis untuk perencanaan dan pengelolaan ekonomi keluarga. Dialog atau proses komunikasi dua arah baru bisa tercapai jika suami maupun istri sama-sama memiliki posisi yang setara. Ibarat air yang permukaannya selalu rata.”


Pak Suko pun melongo mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Ki Joko GP. Komunikasi intensif di antara suami-istri perlu menjadi landasan dalam pengelolaan ekonomi keluarga. “Jika aku sudah menyampaikan ideku kepada istriku sebelumnya mengenai pemanfaatan uang gajiku, mungkin kami tidak akan ribut seperti ini. Jika aku mau mengembangkan komunikasi yang dialogis, mungkin buah pikiran kami berdua bisa menghasilkan ide yang lebih cemerlang,” demikian terbersit dalam pikirannya.


Ia pun bermaksud menanyakan lebih lanjut. “Lalu, Ki, bagaimana dengan…”


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.


“Lho dimana Ki Joko GP tadi?” tanyanya pada orang yang duduk di sebelahnya.


“Ki Joko siapa? Dari tadi Pak Suko duduk melamun disitu kok,” jawab orang di sebelahnya. “Tuh, kopinya sampai dingin…”


Pak Suko pun terbengong-bengong. Lantas, siapa tadi yang berbicara di hadapannya? Dimana orang bernama Ki Joko GP itu sekarang? Dia sama sekali tidak habis pikir. Ada pencerahan aneh yang diperolehnya dari sosok “Ki Joko GP” yang datang tak dijemput pulang tak diantar.


Sementara angin malam berhembus makin kencang. Malam Jumat kliwon pun semakin kelam diiringi lolongan anjing di kejauhan…

Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 3/Tahun X (17 Mei-17 Juni 2009)

Kamis, 04 Juni 2009

Matahari: Menjadi inspirasi bagi buah hati

(Tulisan ke-4 dari 8 seri tulisan)



Oleh: Ditto Santoso



Beberapa hari ini saya cukup repot menghadapi “jagoan-jagoan” saya di rumah. Mereka suka sekali bermain-main dengan uang logam pecahan 100 hingga 500 rupiah. Biasanya uang logam ini diperoleh dari kembalian istri saya berbelanja. Sepintas saya amati, keduanya menirukan peristiwa saat ibunya berbelanja di tukang sayur. Si kecil berperan sebagai “tukang sayur”, sedangkan kakaknya berperan sebagai “pembeli”. Lucu juga. Apakah ini juga bisa menjadi bagian dari pendidikan keuangan dini untuk anak, khususnya pengenalan akan uang? Hmm…

Pendidikan keuangan dini bagi anak merupakan salah satu aspek pendidikan yang penting bagi anak. Bukan soal usia dini sudah diajari bagaimana membuat jurnal keluar-masuk uang, melainkan lebih pada pembentukan karakter serta sifat pada menghargai dan mengelola uang secara cerdas. Orang tua adalah figur yang diharapkan bisa memberikan pendidikan keuangan dini bagi anak, karena pertama-tama mereka sosok terdekat dengan anak. Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia belum memasukkan pendidikan keuangan dini sebagai bagian dari kurikulum. Sementara di negara-negara tetangga seperti Australia, Singapura, dan Malaysia topik ini sudah masuk dalam kurikulum. Sempat terpikir oleh saya, apakah rapuhnya kecerdasan finansial di keluarga yang membuat keluarga-keluarga Indonesia menjadi rentan dan mudah terobrak-abrik oleh krisis ekonomi 1998?

Filosofi berperilaku bagai matahari yang tercantum dalam Hasta Brata dapat menjadi salah satu pijakan bagi orang tua dalam melakukan pendidikan keuangan dini bagi anak. Salah satu sifat utama matahari ialah memberikan terang bagi sekelilingnya tanpa pandang bulu. Dalam hal pendidikan keuangan dini bagi anak, orang tua pun perlu berperilaku sebagai “pemberi terang” ibarat matahari. Dengan sabar dan tanpa kenal lelah, membangun karakter anak mengenai pengelolaan keuangan. Saya jadi teringat kejadian sewaktu saya masih berusia SD. Ibu saya memberikan sebuah buku agenda kecil kepada saya. Ia meminta saya menuliskan pemasukan yang saya peroleh (dari uang saku tentunya) serta pengeluaran yang dilakukan untuk jajan maupun ditabung. Lalu, di sekolah ada teman yang menertawai saya dengan mengatakan, “Agenda kok dipakai buat menghitung uang keluar-masuk?” Meskipun demikian, ibu saya juga dengan sabar menanamkan disiplin kepada saya agar mencatat hal-hal yang dimaksud tadi.

Sifat matahari lain yang penting ialah menjadi inspirator. Banyak puisi, lagu, atau pelatihan-pelatihan motivasional yang mengambil contoh matahari sebagai salah satu unsur alam yang patut diteladani. Ia selalu terbit dan tenggelam tanpa harus diminta. Sekian milyar tahun menyinari dunia tanpa sebentar pun absen. Ia menjadi sumber inspirasi bagi insan Tuhan di jagad ini. Ibarat matahari sang sumber inspirasi, orang tua pun harus menjadi inspirator dalam pendidikan keuangan dini bagi anak. Menjadi inspirator tidak hanya memberikan ajaran baik melainkan juga menjadi panutan (role model) bagi anak dalam mengelola keuangannya. Sejak anak-anak masih kecil, saya juga berupaya menanamkan kepada mereka agar disiplin menabung. Tidak jarang saya mengajak anak-anak untuk pergi menabung di koperasi meskipun mereka masih malu-malu. Sekadar membiasakan. Sekarang, setiap kali mereka melihat saya sedang memegang uang, pertanyaannya selalu “Uangnya mau ditabung, Pa? Buat sekolah Kakak nanti? Nabungnya di koperasi ya?” (terlontar dari mulut anak yang belum genap berusia 4 tahun). Saya berharap suatu saat nanti mereka juga akan mengingatkan, “Pa, kok kita sudah lama ngga pergi menabung?”

Sifat ketiga matahari ialah sifat kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang disampaikan dengan penuh kehangatan tentunya akan membuat orang yang menerimanya merasa diorangkan. Mengajarkan kepada anak bagaimana membuat pilihan yang bijak tidaklah mudah. Saat ini saya dan istri juga direpotkan oleh anak-anak yang mulai terpengaruh teman-teman sekitarnya yang suka jajan. Di waktu inilah kami sedang mencoba memfasilitasi proses mereka untuk belajar membuat pilihan. Ingin membeli permen atau VCD “Thomas and Friends”? Bukan proses yang cepat dan mudah. Kelak mereka juga akan dihadapkan pada realitas untuk memilih antara kebutuhan dan keinginan, memilih di antara segala keterbatasan. Proses pembelajaran itu bisa dimulai sekarang.

Menjadikan matahari sebagai sumber filosofi yang melandasi pendidikan keuangan dini bagi anak hanyalah satu pintu saja. Setiap orang bisa masuk dari pintu berbeda untuk dapat mendidik dan mengembangkan kecerdasan finansial anak-anaknya. Pada akhirnya anak tetap merupakan sosok yang merdeka dalam mengambil keputusan dalam kehidupannya kelak.

Tulisan sederhana ini saya tutup dengan sebuah pesan SMS dari seorang sahabat saya saat anak pertama kami lahir. Pesan ini selalu terngiang hingga sekarang dan menjadi salah satu pegangan saya untuk mengiringi proses pembelajaran anak-anak. “Anak adalah murid sekaligus guru terbaik bagi orang tuanya”. Berkaca dari uraian pengalaman di atas, sepertinya memang demikian adanya.


Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati-Depok edisi No. 2/Tahun X (17 April-17 Mei 2009)

Senin, 06 April 2009

Bintang: Pedoman mengelola ekonomi keluarga

(tulisan ketiga dari 8 tulisan)


Oleh: Ditto Santoso



“Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarungi luas samudra. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa...”


Masih ingat lagu tersebut? Lagu “Nenek Moyangku Pelaut” ini diajarkan pada anak-anak SD. Lagu ini biasanya juga mengiringi pelajaran sejarah. Konon, nenek moyang Bangsa Indonesia mengarungi lautan yang begitu luas tanpa teknologi secanggih sekarang. Kompas sebagai penunjuk arah pun belum ada pada zaman purba. Apa yang diandalkan mereka? Jawabnya “bintang”. Pada malam hari mereka melihat ke langit. Mereka mencermati posisi bintang untuk menentukan arah pelayaran. Contohnya, rasi bintang (sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus) “Scorpius” (kalajengking) menonjol di langit selatan. Bentuknya melengkung jelas dengan ekor panjang yang mengarah ke selatan dan di jantung rasi terlihat bintang merah terang yang disebut “Antares”.


Sang bintang merupakan sebuah benda langit yang indah menghiasi langit pada waktu malam. Sebagaimana dipaparkan dalam alinea sebelumnya, sang bintang juga menjadi petunjuk bagi pelaut untuk menentukan arah. Meskipun bentuknya terlihat kecil di cakrawala yang begitu luas, keberadaannya sangat dibutuhkan. Disinilah kekhasan sang bintang, meskipun terlihat kecil jika dilihat dari bumi dan mungkin dianggap sepele di tengah angkasa luas, ternyata ia memberikan kontribusi berarti bagi beberapa orang.


Anggaran keuangan keluarga juga memiliki filosofi yang sama dengan sang bintang. Mungkin belum banyak diantara kita yang membiasakan diri untuk membuat sebuah anggaran keuangan keluarga. Padahal, ibaratnya sang bintang, sebuah anggaran keuangan keluarga memiliki fungsi sebagai sebuah rencana yang menjadi pedoman untuk memprediksikan sumber penghasilan keluarga untuk jangka waktu tertentu dan kegiatan-kegiatan pengeluaran atau pembelanjaan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Sebuah anggaran juga dapat menjadi alat untuk menggambarkan pos-pos pengeluaran mana yang perlu diprioritaskan dalam jangka waktu tertentu serta meramalkan (didasari perhitungan dan informasi yang serius pula) nilai-nilai nominal yang akan dibelanjakan. Dengan demikian, pada akhirnya kita akan memperoleh gambaran mengenai kemampuan serta keterbatasan kita untuk mendanai pengeluaran yang direncanakan.


Terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk menyusun sebuah anggaran pendapatan dan pembelanjaan keluarga. Yang pertama, mulailah dengan tujuan yang akan dicapai. Apa saja kebutuhan yang harus dipenuhi satu bulan kedepan? Kebutuhan apa yang harus diprioritaskan? Memikirkan tujuan yang akan dicapai membuat kita lebih fokus dalam berencana dan menerapkan. Tentu saja dalam hal ini, perlu dipertimbangkan, manakah dari daftar yang harus dipenuhi itu yang merupakan “kebutuhan” dan mana pula “keinginan”.


Langkah kedua ialah mengkaji sumber-sumber pemasukan bagi keuangan keluarga. Dari mana sajakah sumbernya? Bisa jadi yang memberikan penghasilan bagi keluarga bukan hanya gaji bulanan. Ada pula hasil usaha sampingan, THR, bonus, komisi, atau hasil investasi. Tidak berpijak pada satu sumber penghasilan saja merupakan satu hal positif yang perlu dikembangkan. Karena dengan demikian ketahanan ekonomi keluarga menjadi semakin kuat. Pada langkah kedua inilah gambaran mengenai proyeksi keuangan satu bulan kedepan diperoleh.


Langkah berikutnya ialah melakukan analisis dengan membandingkan daftar pengeluaran dan prediksi penghasilan yang bakal masuk. Apakah sudah berimbang, surplus (penghasilan lebih besar daripada pengeluaran), atau justru sebaliknya? Jika berimbang atau surplus, pastilah tak ada masalah. Bagaimana jika justru kebutuhan memang betul-betul besar di bulan tersebut namun penghasilan yang diterima tidak sebanding? Mungkin saja keluarga akan menengok sisa anggaran bulan sebelumnya, masih bisakah dipakai. Kemungkinan lain yang akan dilakukan ialah memperkecil atau mengambil dari pos pengeluaran lain yang dipandang bukan prioritas, atau mengambil dari kekayaan yang dimiliki saat ini. Setiap keluarga memiliki pendekatan yang berbeda untuk mengatasi masalah ini. Tentu saja, langkah antisipatif juga bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya yaitu dengan menabung dan selalu disiplin dengan rencana keuangan keluarga.


Jika hal-hal tersebut di atas telah dilakukan, berikutnya ialah menerapkan. Sepertinya terlihat mudah. Namun banyak sekali “godaan iman” tatkala anggaran diterapkan, meskipun sebelumnya sudah ada komitmen untuk disiplin. Ketika pergi melancong ke mall, mata tergoda melihat handphone model terbaru di sebelah kiri. Sementara di sebelah kanan, ada tawaran potongan harga 30% hingga 50%. Sampai di ujung, bertemu dengan restoran cepat saji yang harganya tentu ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan warung kaki lima. Wow! Benar-benar menggoda iman.


Terakhir, disiplin memang perlu, namun tetap harus fleksibel jika terdapat kebutuhan darurat yang harus diakomodasi. Untuk itulah review perlu dilakukan. Jika memungkinkan untuk disesuaikan, lakukanlah. Jika tidak terlalu mendesak, tundalah bulan berikutnya dan pikirkan apakah memang betul menjadi kebutuhan.


Rumit? Sepertinya tidak. Sederhana saja. Asalkan memiliki komitmen untuk melakukannya secara disiplin. Karena, intinya menurut Mahatma Gandhi, “Ada cukup uang tersedia untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup tersedia untuk memenuhi keserakahan setiap orang.”


Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati no. 13/Th. IX tanggal 17 Maret - 17 April 2009

Bulan: Memberikan keteduhan di kala gundah

(tulisan ke-2 dari 8 seri tulisan "Hasta brata ekonomi keluarga")



Oleh: Ditto Santoso


“Tok, tok, tok! Tok, tok, tok!” suara pintu rumah diketuk dengan keras.

“Bu Joko, Bu Joko!” demikian suara orang dari luar hampir setengah berteriak.

Dengan sedikit tergesa-gesa, Bu Joko, si empunya rumah pun membukakan pintu. Dilihatnya Bu Irwan, tetangga sebelah rumah, terengah-engah dengan muka sedikit pucat.

“Ada apa, Bu, malam-malam begini?” Bu Joko bertanya-tanya.

“Si Andi, anak saya. Dia panas sudah 3 hari. Baru saja saya bawa ke dr. Bambang. Dia bilang, Andi terkena demam berdarah. Dia harus segera dirawat malam ini! Saya harus bawa dia ke UGD, tapi saya sedang tidak ada uang sepeser pun!” kata-kata Bu Irwan meluncur deras di sela-sela nafasnya.

Anak mau diopname? Tidak punya uang? Benar-benar kondisi darurat! Apakah masih ada rumah sakit yang mau menerima pasien tanpa membayar uang muka?

Pernah mengalami kondisi seperti ini? Bayangkan betapa kalutnya suasana hati kita. Berkaca dari kondisi ini, maka pengelolaan ekonomi keluarga juga perlu memperhatikan satu unsur lagi dalam Hasta Brata, yakni “sang bulan”. Sebagai sebuah benda langit, bulan memiliki fungsi yang kurang lebihnya sama dengan matahari, yakni memberikan sinar (meskipun hanya pantulan dari sinar matahari). Perbedaannya, bulan memberikan sinar pada saat gelap. Sinarnya tidak sepanas atau seterik matahari, namun memberikan kesejukan dan keteduhan. Akibatnya, banyak orang mengadopsi bulan untuk dimasukkan dalam lagu atau puisi. Anak-anak muda yang menjalin cinta pun banyak memilih berduaan diterpa cahaya bulan. Betapa romantis suasana yang tercipta.

Mengacu pada sifat-sifat sang bulan, sebuah perencanaan ekonomi atau keuangan keluarga perlu dibuat dengan matang agar keluarga yang menjalankannya tetap berada dalam suasana tenang ketika terjadi situasi yang tidak diharapkan seperti sakit, kecelakaan, atau meninggal. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu bagi keluarga untuk menyiapkan sebuah pos pengeluaran yang disebut “dana cadangan”.

“Dana cadangan” merupakan sebuah pos pengeluaran keuangan yang dialokasikan untuk mendanai kebutuhan-kebutuhan darurat. Salah satu contoh kebutuhan darurat tergambar pada kasus keluarga Bu Irwan pada awal tulisan ini. Kelihatannya memang sederhana saja, namun sangatlah penting. Mengapa? Karena pos pengeluaran ini banyak tidak terpikir oleh seseorang atau satu keluarga tatkala ia terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan utama lainnya.

Tidak ada rumus dan nilai nominal pasti mengenai jumlah dana cadangan yang perlu disimpan. Meskipun ada konsultan-konsultan keuangan yang menyebut angka yang sebanding dengan 3-6 kali atau bahkan 12 kali jumlah pengeluaran. Ini sangat bergantung dengan kemungkinan risiko yang akan dihadapi. Seseorang yang berkeluarga, mungkin akan cenderung memikirkan kondisi anak-anaknya jika mendadak sakit.

Bagaimana jika sekarang ini tidak mempunyai dana cadangan? Pos ini tetap perlu dimiliki. Caranya? Upayakan menabung untuk mempersiapkan pos tersebut. Tabungan bisa dibuat di bank, koperasi, atau dalam bentuk lainnya. Yang perlu dipertimbangkan ialah bahwa tabungan itu mudah untuk diakses, mudah untuk ditarik (likuid), dan aman. Jadikanlah pos dana cadangan sebagai salah satu pos yang harus dipenuhi dalam anggaran pengeluaran keluarga.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi darurat ataupun yang berisiko ialah “asuransi”. Asuransi merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi terjadinya kerugian keuangan yang mungkin timbul. Contohnya, karena seorang kepala keluarga yang adalah pencari penghasilan satu-satunya dalam keluarga meninggal, maka kerugian keuangan yang mungkin timbul terputusnya dukungan pendanaan untuk anaknya yang masih bersekolah. Kerugian inilah yang akan dilindungi oleh produk asuransi.

Banyak produk asuransi yang bisa dipertimbangkan. Ada asuransi kematian, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi rumah, atau asuransi kendaraan. Sekarang produk asuransi tidak hanya dipasarkan murni untuk proteksi (perlindungan) saja melainkan juga untuk investasi, misalkan produk asuransi pendidikan. Namun, apapun pilihannya, tetap harus dipelajari secara mendalam terlebih dulu.

Dalam konteks berkoperasi, asuransi merupakan salah satu aspek layanan keuangan mikro yang sudah dikembangkan oleh gerakan kopdit. Simpanan maupun pinjaman anggota diasuransikan melalui Daperma. Anggota kopdit tidak perlu gundah apabila kelak dipanggil Tuhan namun masih memiliki kewajiban angsuran di kopdit. Daperma menanggungnya hingga nilai nominal tertentu. Selain itu, Kopdit Melati, khususnya, juga mempunyai produk pinjaman darurat (“Pijat”) dan simpanan dana sehat (“Sisehat”) untuk anggota yang sedang dilanda kesusahan. Sifat sang bulan juga tercermin disini, kopdit berikhtiar memberikan keteduhan bagi anggotanya yang sedang gundah.

Akhirnya, muncul juga pertanyaan, sudahkah keteduhan sang bulan tercipta dalam pengelolaan ekonomi keluarga Anda?
Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati no. 12/Th. IX tanggal 17 Februari - 17 Maret 2009

Selasa, 17 Februari 2009

Bumi: Teladan keajegan menabung

(tulisan pertama dari 8 seri tulisan)
Oleh: Ditto Santoso
Alkisah, Sri Ramawijaya dan balatentara kera berhasil mengalahkan balatentara raksasa pimpinan raja Alengkadirja, Rahwana (disebut juga “Dasamuka”). Dewi Sinta, permaisuri Sri Ramawijaya, berhasil diselamatkan. Meskipun telah memperoleh kemenangan mutlak, Sri Ramawijaya tidak menghendaki dirinya menjadi penguasa atas kerajaan tersebut. Maka dia pun menyerahkan tahta Alengkadirja kepada Gunawan Wibisana, adik Rahwana. Sri Ramawijaya juga memberikan wejangan bagi Wibisana untuk dapat memerintah Alengkadirja dengan arif dan bijaksana. Wejangan ini dikenal dengan nama “Hasta Brata”.

Sepenggal kisah di atas dikutip dari epos legendaris Ramayana (versi Jawa) yang digubah oleh pujangga Yasadipura I (dari Surakarta) pada akhir abad ke-18. Adapun “Hasta Brata” memiliki arti “delapan langkah atau tuntunan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk menjalankan fungsi kepemimpinannya” (hasta: delapan; brata: langkah, perilaku). Delapan langkah itu mengacu pada 8 unsur alam yang juga cerminan dari watak para dewa dalam pewayangan, yaitu bumi, matahari, bulan, bintang, langit, api, angin, dan air. Konsep Hasta Brata menjadi pedoman untuk perilaku kepemimpinan. Meskipun berasal dari kearifan Jawa kuno, namun konsep ini masih relevan dengan era sekarang. Nilai-nilai positif yang terkandung dalam Hasta Brata juga dapat diterapkan dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Kita mulai saja dengan “sang bumi”.

Bumi merupakan teladan bagi konsistensi atau keajegan. Dalam 1x24 jam ia tidak pernah berhenti berputar pada porosnya. Meski tampilannya sederhana, perputaran bumi pada porosnya membuat umat manusia bisa menikmati siang-malam dan panas-dingin. Pergantian iklim itu pula yang mengantar umat manusia mencapai pemenuhan kesejahteraannya, karena bisa memanfaatkan masa-masa tertentu untuk bercocok tanam atau melaut.

Keajegan bumi inilah yang perlu menjadi teladan bagi semangat menabung. Karena, berkaca dari pengalaman, berjuang untuk membangun kebiasaan menabung itu gampang-gampang susah. Tatkala sudah bisa menabung, tiba-tiba ada kebutuhan darurat. Akhirnya, diambillah kembali uang yang sudah ditabung (ini terjadi jika tidak memiliki dana cadangan untuk kebutuhan darurat). Mari berpaling pada bumi. Keajegannya justru membuat umat manusia bisa berproses menuju kesejahteraan. Demikian pula dengan menabung. Keajegan menabung juga akan mengantar manusia pada pemenuhan kesejahteraannya. Namun untuk menjaga keajegan itu, diperlukan beberapa strategi.

Pertama, apa tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan menabung. Tujuan bisa menjadi kekuatan terbesar untuk mendorong orang menabung. Misalnya, orang tua yang ingin kebutuhan pendidikan anaknya terpenuhi, akan berusaha mati-matian menabung demi tercapainya tujuan itu. Sangat baik pula, jika angka nominal yang ingin dicapai sudah ditetapkan terlebih dulu dan target waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai tersebut.

Kedua, ketika sudah tahu apa tujuannya, kajilah produk atau program apa yang bisa dimanfaatkan untuk meraihnya. Misalnya, dalam waktu 5 tahun, seorang ibu ingin mengumpulkan dana sebesar 10 juta rupiah. Untuk itu ia harus memikirkan berapa nilai dana yang harus ditabung setiap bulan dan berapa kemungkinan bunga atau hasil investasi yang diperolehnya. Sesudah itu ia harus mencari produk yang bisa memberikan pengembalian sesuai atau mendekati hasil perhitungan tersebut. Apakah tabungan harian biasa, deposito, reksadana, atau produk lainnya.

Ketiga, membangun kebiasaan menabung di muka. Caranya, langsung menabung begitu memperoleh penghasilan. Jadikanlah menabung sebagai pos pengeluaran wajib di prioritas tertinggi bersama dengan kewajiban-kewajiban seperti angsuran rumah atau biaya listrik/air.

Keempat, tidak mudah tergoda rayuan berbelanja keperluan yang tidak mendesak atau yang sifatnya sampingan saja. Misalnya, membeli HP baru yang sedang trendy, padahal HP lama masih berfungsi baik. Bahasa kerennya, jangan “lapar mata”. Ini bisa menjadi buldoser yang memporak-porandakan tabungan yang sudah dibangun.

Kelima, salah satu cara untuk membangun perilaku menabung adalah dengan menggemakannya ke orang lain, dengan kata lain menjadi model untuk orang lain. Bukakan anak rekening tabungan dan ajaklah menabung secara rutin. Suatu saat, dia akan mengingatkan orang tuanya, kapan akan pergi menabung atau kenapa tidak menabung bulan ini.

Keenam, menabung dan beramal merupakan 2 hal yang sangat dianjurkan. Keduanya bersumber dari penghasilan seseorang. Adalah hak orang itu untuk menabung, ada pula yang harus disalurkan sebagai wujud syukur sekaligus bela rasa kepada sesama. Disinilah kita diminta untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain yang membutuhkan.

Ketujuh, bersyukurlah atas rezeki yang sudah disediakan Tuhan sehingga bisa menabung demi kesejahteraan di masa depan. Bersyukurlah pula atas kesempatan yang diberikan Tuhan bagi kita untuk berbagi dengan orang lain.

Keajegan sang bumi juga dapat menjadi teladan bagi anggota kopdit dalam mengangsur pinjaman. Bayangkan, seandainya bumi berhenti berputar barang 1 menit saja. Bayangkan pula, seandainya angsuran pinjaman berhenti. Apa dampaknya bagi perputaran dana di kopdit, apa pula dampaknya bagi anggota lain yang bermaksud meminjam?

Mari belajar pada sang bumi...
Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati-Depok no. 11/Th. IX tanggal 17 Januari - 17 Februari 2009

Member get member: Berawal dari yang kecil

Oleh: Ditto Santoso
Pada kegiatan PDMK bulan Desember 2008 lalu, saya bertemu dengan seorang ibu yang kebetulan juga mengikuti kegiatan tersebut. Di sela-sela waktu pendidikan, ibu itu sempat berbincang santai dengan saya. Salah satu yang disampaikannya adalah niatan tulusnya untuk mengajak teman maupun tetangganya bergabung di kopdit. “Biar sama-sama bisa merasakan manfaatnya gitu loh,” kata sang ibu ini. Wow!

Perkembangan progresif kopdit dengan mengusung misi sosial-ekonomi sangat bertumpu pada kesadaran anggota-anggotanya. Termasuk dalam hal pengembangan jumlah anggota. Demikian pula dengan kisah sang ibu ini. Ia pun ingin agar teman, kerabat, maupun tetangganya juga ikut merasakan manfaat berkopdit ria. Namun, menggandeng orang untuk mau bergabung dengan koperasi memang bukan perkara mudah. Sebab citra koperasi umumnya sangat berat untuk diangkat dengan banyaknya pengalaman buruk berkoperasi pada masa lalu. Nah, jikalau demikian, bagaimana anggota kopdit bisa menjalankan “member get member” (anggota mengajak anggota baru)?

Belajar dari pengalaman, izinkan saya mencoba berbagi. Pada saat awal menjadi anggota kopdit, belum terlintas dalam benak saya untuk mengajak teman-teman untuk mengikuti jejak saya. Semuanya berjalan begitu saja, mengalir tanpa direncanakan. Melalui tulisan sederhana ini, pengalaman itu saya coba refleksikan dengan mengingat tips dari seorang kenalan. Dia memiliki pengalaman sebagai penggalang dana (fundraiser) yang tugasnya menghimpun sumberdaya pendanaan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial kemanusiaan. Menurutnya, ada 4 langkah yang perlu dilakukan untuk membuat seseorang tertarik dan mau bergabung dengan apa yang kita lakukan, yaitu “Buka mata, buka kepala, buka hati, buka dompet.”

Buka mata. Entah baru saja atau sudah sekian lama menjadi anggota kopdit, tidaklah mudah untuk mengajak orang terdekat sekalipun untuk dengan sukarela menjadi anggota. Metode ceramah atau presentasi pun tidak selalu pas untuk mencapai tujuan ini. Saya pun baru bisa menggandeng teman sekerja menjadi anggota kopdit mungkin sesudah 1 tahun menjadi anggota. Apa yang saya lakukan hanyalah menjadi anggota, mengikuti pendidikan dasar, sering riwa-riwi ke kopdit untuk menabung, meminjam, plus nongkrong disana. Seiring dengan itu, pondasi ekonomi keluarga yang saya bangun sebagai seorang perantau di ibukota mulai membaik. Dari sanalah teman-teman mulai melihat. Ada apa dengan diri saya? Perilaku (positif) individu disertai bukti nyata manfaatlah yang pertama-tama menjadi titik pembangkit perhatian mereka.

Pada tahap kedua, buka kepala. Teman-teman mulai bertanya-tanya. Apa yang membuatmu terdorong bergabung dengan kopdit, apa yang membuatmu menikmati menjadi seorang anggota kopdit, manfaat apa saja yang kauperoleh, apa dampaknya bagimu, bisakah dengan bergabung di kopdit masalahku juga terselesaikan, dan mungkin berbagai pertanyaan lainnya yang mampir. Ketika mereka bertanya-tanya, itulah pertanda munculnya ketertarikan. Selain mencoba menjawab pertanyaan teman-teman, saya pun memberikan informasi lebih lengkap dalam bentuk brosur tentang kopdit atau mengantarkan mereka untuk bertanya langsung di kantor pelayanan kopdit.

Mungkin diantara teman-teman itu ada yang mendiskusikan lagi dengan pasangan hidupnya di rumah atau mempertimbangkan sendiri. Disinilah tahap buka hati berjalan. Mereka pun mulai menimbang-nimbang. Mencoba mempertajam dari rasa tertarik yang sudah muncul dengan memikirkan secara lebih dalam dengan perenungan hati. Disitulah muncul dorongan hasrat atau keinginan untuk bergabung dengan kopdit. Tak jarang mereka juga mencari pembanding. Tujuannya untuk lebih membangun keyakinan. Hingga akhirnya, mereka merasakan bahwa model kopdit ini pas untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi (misalkan soal ekonomi keluarga) atau solider dengan sesama yang membutuhkan.

Tahap buka dompet (atau lebih tepatnya untuk konteks kopdit,“buka BA” [Buku Anggota]?) merupakan langkah final tatkala seorang teman sudah merasa yakin betul dan akhirnya memutuskan bahwa ia siap bergabung dengan kopdit. Mereka pun datang ke kantor pelayanan kopdit. Tak jarang pula saya ikut mengantar.

Empat tahap di atas yang mungkin telah saya amalkan dalam menggemakan kopdit di antara teman-teman dan kerabat. Buntutnya, tanpa terasa saya sudah menginspirasi atau merekomendasikan belasan (atau mungkin lebih) teman bergabung dengan kopdit tanpa harus memberikan presentasi atau ceramah serius. Semua hanya diawali dengan langkah kecil saja, yaitu perilaku positif kita. Dengan kata lain, orang akan melihat diri kita sebagai figur anggota kopdit yang hidup di tengah masyarakat atau bahasa kerennya, living model.

Ada yang mau mencoba?
Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati-Depok No. 11/Tahun IX/17 Jan 2009-17 Feb 2009

Kamis, 12 Februari 2009

Kepemimpinan transformatif dalam UKM

Oleh: Ditto Santoso
Umumnya usaha kecil lahir dari sebuah usaha keluarga, karena memang merupakan bagian dari upaya peningkatan pendapatan keluarga. Tidak heran kalau gaya kepemimpinan di perusahaan tersebut diwarnai oleh gaya kepemimpinan seseorang dalam keluarga atau di rumah tangganya.
Menurut Bleicher (2001), setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen usaha kecil yang bertolak dari keluarga. Pertama, adanya pengaruh dari pemilik terhadap pengelola (manajemen) yang akan berdampak bagi jalannya roda usaha. Kedua, pertanyaan yang sering terlontar adalah mengenai pergantian kepemimpinan dalam usaha tersebut, apakah talenta yang dimiliki oleh pendiri akan menurun kepada generasi berikutnya? Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, bahwa generasi pertama bertugas membangun, generasi kedua mempertahankan, sedangkan generasi ketiga meruntuhkan.
Lepas dari dua pertanyaan itu, terdapat satu hal yang dapat dipastikan, ketika skala usaha mulai membesar, maka berbagai kebutuhan akan sumber daya akan meningkat. Terlihat dengan adanya rekrutmen karyawan baru, pengelolaan keuangan yang lebih tersistematis, atau penetrasi yang lebih dalam ke pasar. Dengan latar belakang perubahan itu, maka gaya kepemimpinan dalam usaha itu juga perlu diselaraskan. Dalam hal ini diperlukan seorang pemimpin yang mampu membawa perusahaan meniti jembatan perubahan.
Kepemimpinan transformatif merupakan pendekatan untuk mendobrak pola pikir tradisional yang memandang bahwa hubungan antara pemimpin dan karyawan (leadership and followership) hanya dilandaskan atas reward yang diberikan. Dengan kata lain, faktor utama yang mendorong karyawan untuk bekerja hanya karena dibayar. Dalam pola kepemimpinan tradisional, kontrol atas proses kerja tersentralistis di tangan sang pemimpin.
Sementara kepemimpinan transformatif mendelegasikan wewenang kepada karyawan atau bawahannya, mempercayai, dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melakukan pekerjaan kreatif dan dinamis. Dengan demikian, karyawan tidak hanya bekerja dengan semangat “business as usual”, melainkan berorientasi pada apa yang terbaik bagi perusahaan sejalan dengan talenta yang dimilikinya.
Terdapat empat pola perilaku kepepemimpinan transformatif dalam menjalankan perusahaannya. Pertama, idealized influence. Seorang pemimpin memiliki pengaruh yang besar terhadap karyawannya. Ia memiliki semacam kharisma dan menjadi model positif (panutan) bagi karyawan.
Kedua, inspirational motivation. Pemimpin mengedepankan nilai-nilai budaya perusahaan, termasuk didalamnya menanamkan visi yang inspiratif. Upaya-upaya pembumian budaya tersebut dapat dilakukan melalui simbol atau lambang. Pemimpin berperan sebagai pembangkit semangat teamwork, antusiasme, dan optimisme di antara sesama rekan kerja.
Ketiga, individualized consideration. Perilaku kepemimpinan ini terwujud dalam bentuk coaching, support, dan memberikan dorongan bagi para pengikutnya.
Keempat, intellectual stimulation, yaitu sebuah perilaku yang mempengaruhi para pengikutnya untuk dapat memandang permasalahan dengan perspektif dan kesadaran yang jernih.
Sulitkah melakukannya? Berikut beberapa tips bagi para pemimpin UKM untuk mulai menerapkan pendekatan kepemimpinan transformatif sebagaimana dikemukakan oleh Kevin Kalloway dan Julian Barling (2001): •
  • Melakukan pengambilan keputusan secara transparan dan konsisten. Ini akan mendorong terciptanya rasa hormat dan kepercayaan.
  • Menunjukkan serta mendorong sikap antusias dan optimis, sehingga karyawan lebih percaya diri dan terinspirasi untuk berbuat yang lebih baik.
  • Mengkondisikan dan mengajak karyawan untuk selalu melihat permasalahan dalam lingkungan kerja dengan perspektif yang jernih, sehingga akan mendorong partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan.
  • Luangkan waktu untuk memberikan perhatian pada karyawan, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada karyawan melalui forum-forum pertemuan internal (syukuran kecil atas kenaikan penjualan tahunan) ataupun sekadar kartu ucapan selamat atas prestasi yang telah dicapainya.
Artikel ini dimuat di rubrik UMKM Harian Republika pada ... Februari 2004.

Pendampingan usaha mikro di perkotaan

Oleh: Ditto Santoso
Pernahkah kita memperhatikan para penjual sayur, penjual bakso, bakul jamu gendong, sopir angkot, atau tukang ojek yang ada di sekitar pemukiman kita? Salah satu faktor yang membuat mereka bisa bertahan dan terus tumbuh, yaitu adanya proses pendampingan dari petugas lapang yang memiliki kepedulian terhadap perekonomian rakyat. Selain memberikan bantuan manajemen, para petugas lapangan ini umumnya juga membantu menghubungkan para pelaku usaha mikro tersebut dengan lembaga pembiayaan.
Mendampingi pengusaha mikro khususnya di wilayah perkotaan, merupakan pengalaman yang cukup menarik. Sebagian besar di antara mereka berasal dari daerah pedesaan, yang kemudian datang ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Karena tidak memiliki pendidikan dan ketrampilan yang memadai, sehingga mereka tidak mampu untuk bersaing di sektor formal, akhirnya terpaksa memasuki sektor-sektor informal. Tantangan hidup yang demikian berat telah menumbuhkan semangat kerja dan ikatan solidaritas yang tinggi. Selain perasaan senasib, ikatan solidaritas itu juga terbangun oleh faktor kesamaan daerah atau kesamaan jenis usaha di antara pelaku sektor informal ini.
Dari faktor kesamaan daerah, terlihat adanya pertalian yang kuat di antara mereka. Malahan banyak di antaranya yang merantau ke kota, karena diajak oleh kerabat atau tetangga yang telah terlebih dulu bekerja di kota. Sebelum mampu memulai usaha sendiri, mereka mengikuti semacam proses “magang” dalam jangka waktu tertentu. Kesamaan jenis usaha juga merupakan salah satu pengikat di antara para pengusaha mikro ini. Malahan para pedagang buku di Jalan Kwitang, Jakarta, telah memiliki wadah formal beruka koperasi, sehingga bisa membeli stok buku dalam jumlah besar. Manfaatnya sangat positif, karena mereka bisa membeli barang dengan harga murah, yang akhirnya bisa meningkatkan keuntungan.
Dengan adanya berbagai ikatan itu, akan lebih mempermudah dalam proses pendampingan. Karena pada dasarnya pendampingan itu bertumpu pada strategi penumbuhan dan pengembangan kelompok swadaya masyarakat (self help group). Yaitu sekumpulan orang yang membangun kerja sama secara berkelanjutan, dalam upaya peningkatan kesejahteraan para anggotanya.
Di sisi lain, mendampingi pengusaha mikro di wilayah perkotaan bukanlah hal yang mudah, banyak tantangan yang dihadapi seperti faktor budaya, regulasi, persaingan, dan permodalan.
Budaya. Dari segi budaya, umumnya masyarakat menengah ke bawah di perkotaan memiliki karakter yang keras, dan itu dipicu oleh kerasnya kehidupan yang mereka hadapi. Untuk menghadapi orang-orang seperti ini diperlukan pendekatan yang luwes.
Regulasi. Dari segi regulasi, tampaknya masih banyak program atau kebijakan pemerintah yang belum memberikan atmosfer yang kondusif bagi para pengusaha mikro ini, seperti penggusuran-penggusuran yang sering dialami oleh para pedagang kaki lima. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan “dialog kebijakan” di antara pihak yang terkait (stakeholders), baik pelaku usaha mikro, lembaga pendamping (LSM), Lembaga Keuangan Mikro (LKM), sektor swasta, dan pemerintah.
Persaingan. Bagaimana dengan kondisi persaingan yang mereka hadapi? Ternyata pesaing terberat yang dihadapi oleh usaha mikro ini adalah industri-industri besar. Banyak hal yang sulit di jangkau oleh usaha mikro, sehingga posisi mereka makin terdesak oleh pengusaha besar. Misalkan dalam hal hak cipta, seperti pendaftaran merk, izin layak jual, dan label halal dari instansi pemerintah, serta jaringan pemasaran.
Permodalan. Dari segi permodalan, masih banyak usaha mikro yang tidak tersentuh oleh lembaga keuangan (formal). Meskipun sebagian sudah dibina dan didampingi oleh berbagai LSM, namun sedikit sekali yang telah mampu akses ke lembaga keuangan formal. Suatu hal yang positif bahwa saat ini telah banyak LKM seperti BMT dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang melakukan terobosan untuk bisa menjangkau usaha mikro dengan menjalankan misi pemberdayaan. Bertolak dari gambaran tersebut, dapat dikatakan bahwa masa depan usaha mikro sebagai pelaku utama ekonomi rakyat, merupakan tanggung jawab semua pihak. Bukan saja karena usaha mikro mampu menyerap angkatan kerja dan penghasil produk-produk primer, tetapi juga karena konstribusinya yang besar dalam penanggulangan kemiskinan.
Artikel ini dimuat di rubrik UMKM Harian Republika pada ... November 2003.

Pelayanan keuangan mikro yang berkelanjutan

Oleh: Ditto Santoso
Merintis dan menjalankan sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang melayani masyarakat miskin bukanlah suatu hal yang mudah. Bukan hanya dana yang dikelola, melainkan juga lembaga itu sendiri, termasuk sumber daya manusia (SDM), serta menjaga hubungan dengan lembaga mitra. Sebuah LKM yang masih dalam fase “berjuang”, kadang harus pontang-panting mencari dana untuk memenuhi banyaknya pinjaman dari masyarakat. Melalui papernya yang berjudul “Private Investment as A Financing Source for Microcredit”, Carter Garber (1997) menawarkan tujuh langkah untuk membangun program kredit dan tabungan yang berkelanjutan bagi sebuah LKM.
Memilih satu model program untuk dijalankan.Satu model program pelayanan keuangan dan pengembangan usaha mikro yang spesifik tidaklah bisa direkomendasikan dalam semua konteks situasi. Meskipun demikian, beberapa kriteria dasar teknis dan sosial ekonomi yang umum sifatnya bisa menjadi bahan pertimbangan, seperti jangkauan program, fokus terhadap masyarakat miskin, menyediakan kemudahan akses pelayanan tabungan dan kredit, mekanisme pembiayaan, serta keberlanjutan keuangan. Memadukan kredit dan tabungan, ataupun kredit dengan program sosial-ekonomi lainnya merupakan salah satu cara untuk mencapai tingkat partisipasi dan keberlanjutan yang lebih tinggi.
Membangun konsensus. Membangun sebuah konsensus diantara stakeholder yang beragam merupakan sebuah faktor penting dalam menentukan keberhasilan program kredit. Hal ini dipandang penting karena pelaksana program harus berhadapan dengan tantangan perbaikan atau perubahan nilai-nilai dan aturan main sebagai model pelayanan keuangan yang berupaya untuk mengurangi subsidi, menitikberatkan pada perputaran dana, serta mengedepankan pola kemitraan.
Mendorong peran staf lembaga dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Staf program didorong untuk memantau pelaksanaan dan pengembangan pelayanan keuangan, memainkan peran penting dalam mewujudkan tingkat pemahaman dan kepekaan yang lebih baik, maupun mentransfer pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Pengalaman dalam mendesain proyek/program, menerapkan, mengelola, dan mengevaluasi, serta pengalaman dalam bekerja dengan masyarakat miskin (terutama kaum perempuan miskin) adalah unsur-unsur penting dalam mencapai tujuan secara efektif.
Mendorong munculnya kebijakan nasional. Kebijakan nasional dan regional yang jelas mengenai pelayanan kredit mikro bagi masyarakat miskin mendorong terjadinya perluasan skala, spesialiasi, dan keberlanjutan pelayanan. Lembaga perlu terlibat aktif dalam kegiatan advokasi untuk mendorong munculnya kebijakan tersebut.
Menilai dan memilih lembaga keuangan yang mapan sebagai mitra. Model kemitraan yang dinamis diperlukan dalam mempromosikan LKM yang berkelanjutan. Umumnya lembaga-lembaga mitra tersebut melakukan kegiatan pengelolaan dana atau menyediakan pelayanan bagi klien yang miskin. Mereka mungkin juga memonitor pengelolaan layanan program, dampak sosial-ekonomi, dan memberikan asistensi dalam bidang manajemen keuangan dan sistem informasi manajemen. Sebagai hasilnya, baik lembaga pelaksana program (LKM) maupun mitranya, akan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai aktivitas pengembangan program yang efektif serta mampu menjadi lembaga pelayanan yang kokoh.
Merancang kesepakatan dengan lembaga mitra. Kesepakatan dengan mitra diperlukan untuk merumuskan kesamaan visi program. Aturan main, alur pertanggungjawaban, joint review, pemecahan masalah, dan indikator kinerja juga harus diidentifikasi. Kesepakatan yang dibuat juga mencakup spesifikasi formulir dan pelaporan yang terstandarisasi sehingga memudahkan pengukuran kinerja nantinya, termasuk didalamnya kinerja portofolio pinjaman, cost-recovery, perkembangan keberlanjutan usaha, dan dampak sosial-ekonomi (seperti kesetaraan gender, pendidikan anak, dan lain-lain).
Mengelola kesepakatan. Mengelola kesepakatan memerlukan pemahaman yang menyeluruh terkait dengan isu program, kelembagaan, maupun keuangan lembaga mitra. Dimungkinkan perlunya asistensi teknis, pelatihan, pengembangan sistem, dan sebagainya, untuk dapat lebih mengefisienkan kemitraan tersebut. Mengukur dampak program dan pengembangan organisasional dari lembaga mitra bergantung pada sistem informasi dan instrumen monitoring yang baik.
Menurut hemat penulis, 3 faktor yang menjadi intisari dari 7 langkah di atas adalah pengembangan lembaga, kemitraan, dan kesepahaman. Dalam mewujudkan sebuah program pelayanan kredit mikro yang efektif dan efisien dibutuhkan sebuah lembaga dengan aspek-aspek organisasional yang kuat. Tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga dari segi SDM, operasional, maupun sistem informasi manajemen. Untuk dapat berkembang kesana, LKM perlu bergerak ke lingkungan eksternal dan menjaring mitra-mitra guna mendukung program pelayanannnya. Dua atau lebih lembaga dengan budaya yang mungkin berbeda dan akan bersinergi menuntut adanya sikap saling memahami hingga bermuara pada satu visi yang disepakati bersama.
Artikel ini dimuat di rubrik UMKM Harian Republika pada ... Maret 2004.

UMKM dalam agenda politik 2004

Oleh: Ditto Santoso
Pemilu tahun 2004 telah di depan mata. Berdasarkan hasil survei CESDA-LP3ES yang dipublikasikan Juni 2003, alasan terbesar mengapa seseorang memilih partai tertentu dalam Pemilu 1999, adalah faktor keberpihakannya pada rakyat (23 persen). Sedangkan alasan mengapa seseorang mengalihkan pilihannya ke partai politik lain, yaitu karena tujuan partai makin tidak jelas (15 persen), mengabaikan kepentingan pendukung (13 persen), dan pemimpin partai hanya mementingkan diri sendiri (13 persen).
Dari hasil survei tersebut tampak betapa pentingnya keberpihakan sebuah partai politik kepada rakyat, termasuk juga dalam hal pemberdayaan di bidang ekonomi. Terkait dengan isu pemberdayaan ekonomi rakyat, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ada beberapa pertanyaan penting sebagai tolok ukur, antara lain: konsep apakah yang ditawarkan oleh tokoh dan partai bersangkutan yang umumnya dipresentasikan dalam kampanye, khususnya pengembangan UMKM? Bagaimana strategi, indikator, dan rentang waktu pencapaiannya? Sejauh mana tokoh/partai tersebut telah membuktikan keberpihakannya pada ekonomi rakyat secara nyata?
Sedikitnya ada enam butir agenda yang perlu dipertimbangkan oleh berbagai partai politik peserta pemilu, dalam memperjuangkan pengembangan UMKM:
Pertama, memperjuangkan dan memberikan perhatian pada program-program penataan kota yang didalamnya berpotensi memunculkan penggusuran terhadap rakyat miskin yang notabene adalah para pelaku usaha mikro, entitas bisnis yang selama ini terbukti bertahan dalam masa krisis. Selama ini, pola penggusuran justru melahirkan “orang-orang miskin baru” yang kehilangan tempat tinggalnya, kebingungan melanjutkan pekerjaan, sementara keluarganya terlantar.
Kedua, adalah memperjuangkan kebijakan mengenai permodalan bagi sektor UMKM, sehingga rakyat miskin (economically active poor) dapat memiliki akses pada sumber-sumber permodalan untuk mendukung perputaran roda usahanya. Selama ini akses orang miskin ke sumber modal sangatlah terbatas. Banyak persyaratan yang tidak bisa mereka penuhi ketika harus berhadapan dengan lembaga keuangan formal. Iklim yang kondusif bagi Lembaga Keuangan Mikro (LKM), seperti BPR, BMT, koperasi kredit, perlu diciptakan, karena lembaga-lembaga itulah yang selama ini memiliki andil besar dalam perkembangan UMKM.
Ketiga, memperjuangkan program-program pengembangan UMKM yang tepat, misalnya dalam bentuk konsultansi dan pendampingan bagi UMKM, karena pada dasarnya masalah yang dihadapi UMKM tidak sebatas modal semata. Aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan seperti penguasaan teknologi produksi, pengembangan produk, manajemen usaha, dan jaringan pemasaran.
Keempat, memperjuangkan kebijakan di tingkat makro yang berpihak pada produsen lokal (UMKM) agar produk-produknya bisa survive berhadapan dengan produk asing yang akan terus melakukan penetrasi ke pasar Indonesia. Ini merupakan upaya untuk melawan kapitalisme dengan wajah baru, “globalisasi”. Yang juga perlu diperhatikan adalah menjadi pengontrol bagi kebijakan pemerintah dalam memasuki percaturan ekonomi global.
Kelima, memperjuangkan kebijakan corporate social responsibility agar perusahaan-perusahaan besar terlibat dalam upaya pemberdayaan UMKM dan masyarakat pada umumnya, misalnya dengan menjadi bapak asuh, menerapkan hubungan link and match dengan UMKM, atau memiliki program community development yang berbasis pada penguatan ekonomi lokal. Ini merupakan wujud nyata tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa dalam pemulihan perekonomian nasional.
Keenam, adalah kesediaan segenap aktor dalam panggung politik nasional untuk bersedia bekerja sama dengan semua pihak (multistakeholders), secara bersama berikhtiar mengembalikan tatanan perekonomian nasional ke arah yang lebih baik melalui pengembangan UMKM.
Artikel ini dimuat di rubrik UMKM Harian Republika pada ... Januari 2004.