Senin, 21 Desember 2009

Udara: Kerelaan untuk Memberi

Hasta Brata Ekonomi Keluarga (8)
Oleh: Ditto Santoso


Indonesia adalah negeri yang rawan bencana! Kesadaran itu mulai menyeruak di reluang hati masyarakat Indonesia manakala gempa dahsyat disusul tsunami meluluhlantakkan Aceh. Berbagai gerakan untuk menyalurkan bantuan datang sambung-menyambung. Tak hanya bantuan berupa dana dan barang, ratusan bahkan mungkin ribuan orang turun tangan sebagai relawan untuk turut membantu masyarakat memulihkan diri pasca bencana.

Dorongan untuk memberi atau berbagi dengan sesama yang membutuhkan merupakan dorongan alami yang muncul dari dalam lubuk hati manusia. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia yang umumnya religius ini juga didorong oleh ajaran agamanya untuk berbuat demikian. Dalam ajaran kristiani, umat diajarkan untuk berbagi dalam bentuk perpuluhan, kolekte, atau aksi puasa menjelang Paskah. Sedangkan dalam ajaran Islam, umat juga didorong untuk menyisihkan sekian persen dari pendapatannya, karena itu merupakan hak dari orang miskin.


Lho, bagaimana harus memberi jika keluarga kita sendiri masih dilanda kesulitan ekonomi? Argumen ini sering mengemuka ketika kita dihadapkan pada dorongan untuk berbagi. Namun mudah pula dipatahkan, karena untuk memberi tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar, untuk bisa memberi tidaklah harus kaya. Pernahkah Anda memperhatikan kisah seorang anak seusia sekolah dasar yang datang ke kantor sebuah media yang sedang menyalurkan dana bantuan kemanusiaan? Ia membawa celengannya yang berisi tabungan yang dikumpulkan dari uang recehan sisa jajan. Ia menyatakan ingin membantu orang yang sedang ditimpa bencana alam. Betapa mulianya hati anak itu. Mengingatkan pada pernyataan reflektif almarhumah Bunda Teresa, seorang pegiat kemanusiaan yang memperjuangkan orang miskin di India, “Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal besar. Tapi setiap orang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”


Bukankah dengan memberikan sesuatu untuk orang lain justru akan mengurangi keuntungan yang sedang kita kumpulkan? Pertanyaan tersebut juga akan memprovokasi benak kita. Seorang penulis, pendidik, serta perintis penyembuhan holistik bernama Dheepak Chopra, dalam bukunya berjudul “The Seven Spiritual Laws of Success” (“Tujuh Hukum Spiritual menuju Sukses”, 1994), menyatakan bahwa hukum spiritual kedua yang perlu dipatuhi agar seseorang mencapai kesuksesan hidup ialah the law of giving (hukum memberi) atau bisa juga disebut "the law of giving and receiving" (hukum memberi dan menerima). Menurut Chopra, kehidupan merupakan suatu aliran dari berbagai energi. Menghentikan aliran energi kehidupan sama halnya dengan menghentikan aliran darah dalam tubuh manusia. Ketika darah berhenti mengalir atau membeku, kita bisa menebak, apa yang terjadi pada diri manusia itu.

Dalam ikhtiar untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, “uang” dapat dipandang sebagai sebuah energi kehidupan. Kita semua setuju bahwa bekal utama hidup berkeluarga adalah cinta. Tapi dalam operasional keluarga sehari-hari uang menjadi unsur penting. Jika uang juga sebuah energi kehidupan, maka “menimbun” atau “menahan” uang untuk semata-mata memenuhi keinginan pribadi tanpa menyalurkannya sama halnya dengan menghentikan aliran energi kehidupan yang seharusnya mengalir keluar dan nantinya akan kembali lagi pada diri kita. Untuk menjaga agar energi tetap mengalir dan kembali lagi pada diri kita, energi itu harus tetap mengalir. Energi itu harus kita berikan kepada orang lain agar nantinya juga akan kembali pada diri kita. Semakin banyak energi disalurkan, makin banyak pula energi yang akan kembali.


John M. Huntsman, seorang usahawan yang memperoleh banyak penghargaan internasional (lulusan terbaik Wharton University; 1994: Kaveler Award untuk CEO terbaik di industry kimia; 2001: Entrepreneur of the Year; 2003: penghargaan kemanusiaan dari Larry King-CNN), bisa menjadi contoh tentang bagaimana dengan memberi ia menerima lebih banyak. Ia sudah memiliki mentalitas member sejak masih bergumul sebagai seorang penjual telur yang sederhana. Semakin besar penghasilannya, semakin besar pula ia memberi. Ia telah menyumbangkan 225 juta US dolar untuk lembaga yang menangani penyakit kanker dan 50 juta US dolar untuk bidang pendidikan. Kebiasaan memberi yang dilakukan Huntsman membuahkan hal-hal positif bagi dirinya, meskipun tidak berbentuk uang. Hal terpenting yang diperolehnya ialah dukungan dan bantuan dari banyak orang, terutama mereka yang telah menerima pertolongan darinya, baik dalam bentuk moral maupun finansial.


Unsur alam kedelapan dalam rangkaian tulisan Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ialah “udara”. Udara merupakan unsur alam yang memenuhi permukaan bumi ini. Ia tidak tampak dan tidak disadari keberadaannya, tapi dapat dirasakan manfaatnya. Seperti halnya mengelola keuangan keluarga, udara pun memberikan dirinya untuk dihirup oleh manusia. Saat manusia bernafas, ia menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Karbon dioksida menjadi sumber energi kehidupan bagi tanaman untuk tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Hasil dari tanaman itu pulalah yang akan dimanfaatkan oleh manusia. Jika orang menjadi sejahtera dari segi finansial, maka jangan lupakan untuk membagikan energi kehidupan yang dimiliki agar alirannya tetap mengalir. Jadilah “udara” yang selalu memberikan dirinya untuk segenap makhluk ciptaan Tuhan di bumi ini.



Artikel ini dimuat di Buletin Kopdit Melati - Depok edisi 9/Th. X, 17 Nov - 17 Des 2009

Selasa, 01 Desember 2009

Langit: Saatnya Berpikir Luas

(Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ke-7)

Oleh: Ditto Santoso



Suatu hari di tahun 2039…


Lewat tengah hari, Pak Tono tampak melangkahkan kaki di atas trotoar jalan di kompleks perumahan tempat tinggalnya yang dikenal sangat asri di kotanya. Penampilannya yang sederhana dilenglapi oleh setelan jas model lama yang dipopulerkan 2 tahun lalu. Ia mengepit sebuah tas kulit tua yang isinya berupa dokumen-dokumen yang dia perlukan hari itu. Laki-laki pensiunan itu memang baru saja kembali dari bank untuk mengambil uang pensiun bulanannya. Antri di bank betul-betul melelahkan meskipun sistem transfer rekening sudah diterapkan, masih banyak orang yang suka antri di bank. Sambil bercengkrama dengan sesama pensiunan lainnya.


Berbelok ke sebuah jalan, Pak Tono melewati sebuah rumah yang rindang. Merdu terdengar suara kicau burung perkutut yang saat ini sudah langka. Sekarang ini orang lebih suka mendengarkan suara perkutut dalam bentuk rekaman audio digital yang bisa dipasang di radio maupun di tape pada mobil. Benar-benar langka kalau ada yang masih memeliharanya di tahun 2039. Tersadarlah Pak Tono. Itu rumah Pak Banu, sahabat sejak muda sekaligus tetangga beda RW.


“Pak Tono, mampir, Pak,” terdengar suara dari arah rumah. Tampak seorang laki-laki seusia Pak Tono sedang asyik duduk di teras rumah sembari membuka laptop. “Lama kita ngga ketemu nih…”


Masuklah Pak Tono ke halaman rumah Pak Banu yang asri. Pak Banu langsung menyambut dan memeluk sahabatnya itu. Tampaknya memang cukup lama mereka saling tidak bertemu. Pak Banu pun mempersilakan Pak Tono masuk dan bergabung dengannya di teras rumah yang dinaungi oleh suasana asri dan udara yang segar. Mereka pun saling bertanya kabar keluarga masing-masing dan mulai berbincang-bincang mengenai banyak hal.


“Kok Pak Banu di rumah saja? Tidak ikut antri ambil uang pensiun di bank?” tanya Pak Tono setelah menyeruput teh manis yang dihidangkan oleh Bu Banu.


Pak Banu pun tertawa kecil. “Nyante aja kalee’, Pak. Soal uang pensiun diambil belakangan juga bisa, mau transfer pun bisa,” katanya. “Saya tidak terlalu mengandalkan uang pensiun itu untuk hidup sehari-hari. Saat ini saya hanya menikmati jerih-payah yang sudah kurintis sejak 30 tahun lalu.”


Pak Tono pun mengernyitkan keningnya pertanda kurang mengerti. Setahunya, Pak Banu sama seperti dirinya. Sekian puluh tahun bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Waktu pensiunnya pun hamper bersamaan. Tapi memang ia agak bingung juga melihat Pak Banu begitu menikmati hidup. Sekali waktu menengok anak-cucunya di luar pulau. Di lain waktu mengajak istrinya berlibur ke tempat yang jauh yang dimata Pak Tono itu bakalan menghabiskan uang pensiun yang dimiliki. Atau jangan-jangan Pak Banu punya “resep rahasia”?

“Tiga puluh tahun lalu saat saya sudah memasuki masa kerja hampir 10 tahun lamanya, saya tersadar bahwa hidup ini penuh dengan risiko,” kata Pak Banu. “Saat itu, saya punya 3 anak. Istri saya tidak lagi bekerja karena ingin berkonsentrasi merawat anak di rumah. Maklumlah, kalau di tahun 2039 ini pembantu rumah tangga berbentuk robot yang canggih, di zaman 30 tahun lalu kan belum ada. Jadi kami tidak mau anak kami dirawat oleh pembantu rumah tangga.”


Pandangan Pak Banu menerawang jauh seolah mengenang kisah hidupnya yang penuh dengan perjuangan. “Saya sadar bahwa saya tidak bisa mengandalkan pendapatan dari 1 sumber saja, karena sangat riskan. Maklumlah, gaji sebagai karyawan pada waktu itu kan kecil.”

Pak Tono manggut-manggut mendengarkan kisah sahabatnya itu dengan seksama.


“Saya membaca sebuah artikel di buletin koperasi kredit tempat saya menjadi anggota. Isinya tentang Hasta Brata dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Salah satu brata yang dimaksud ialah langit. Cobalah kita melihat langit itu,” kata Pak Banu sembari mendongakkan kepalanya melihat langit biru di atas sana. Pak Tono pun mengikuti dengan melihat langit di atas. Ia berpikir, apa yang diperoleh dari langit itu oleh Pak Banu. Hujan uangkah?


“Langit amat luas. Tak berbatas. Di sana kita bisa temukan berbagai benda angkasa yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya. Banyak sekali hal yang bisa ditemukan disana,” lanjut Pak Banu kemudian. “Terinspirasi oleh langit, saya mencoba berpikir terbuka. Berpikir keluar dari kotak. Bahasa kerennya, thinking out of the box. Saya berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko karena hanya memiliki 1 sumber penghasilan. Coba pikir, mana bisa keluarga kami bertahan dengan penghasilan segitu-gitu saja.”


Pak Banu menyeruput teh buatan istri tercintanya. “Saya berbicara dengan istri saya untuk membuat strategi peningkatan pendapatan. Istri saya pun berupaya membuat warung kecil-kecilan. Modalnya diperoleh dari pesangon yang diperolehnya. Sementara saya berpikir untuk mencari jenis-jenis investasi yang menguntungkan. Mengapa investasi? Karena saya pikir, waktu saya sudah tersita banyak untuk bekerja. Lalu, di luar waktu kerja saya harus meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Lha kalau saya kerja lagi, kapan kumpulnya dengan anak-istri?”


Lagi-lagi Pak Tono manggut-manggut. “Bener juga yach… dulu saya tidak terpikir untuk itu. Saya pikir uang pensiun dari perusahaan dan Jamsostek sudah cukup. Padahal biaya hidup sekarang kan sudah jelas lebih tinggi daripada 30 tahun lalu.”


“Ibarat langit yang luas, saya juga mencoba berpikir luas. Akhirnya saya temukan beberapa pilihan untuk berinvestasi untuk keperluan hari tua, meskipun perusahaan sudah memfasilitasi dengan adanya dana pensiun dan Jamsostek. Pertama, ada tabungan hari tua yang diprogramkan oleh koperasi kredit. Setiap menerima gaji, saya langsung sisihkan dana untuk tabungan ini. Kedua, saya mencoba menggunakan instrumen keuangan lain yang relatif aman dan terjangkau, misalkan deposito dan reksadana. Ketiga, saya join dengan adik saya yang lulusan farmasi membuat sebuah apotek kecil pada waktu itu. Apotek itu sekarang sudah berkembang dengan menyediakan praktek dokter dan laboratorium, serta sudah memiliki beberapa cabang.”


“Modalnya?” tanya Pak Tono lagi.


“Saya kan anggota setia koperasi kredit. Saya meminjam hanya untuk keperluan produktif, yaitu untuk investasi dan usaha.”


“Ck ck ck…” Pak Tono terheran-heran. “Luarrr biasa! Sungguh Pak Banu seorang yang visioner. Selama ini saya pikir Pak Banu hanya orang yang rajin ke kantor saja. Rajin tapi penghasilan rata-rata saja.”


“Hahaha! Saya kan juga tidak ingin menjadi karyawan ‘BP7’, Pak…” Pak Banu tertawa.


“Apa itu ‘BP7’?”


“Berangkat Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan sampai rumah Pingsan Pula!”


Tawa kedua sahabat itupun berderai.


Sungguh perjumpaan dengan Pak Banu hari itu membuat Pak Tono luar biasa terinspirasi. Mungkin sudah terlambat baginya, namun tidak buat anak-anaknya yang sedang merintis karier dari nol saat itu. Ia akan membagikan kisah sukses Pak Banu itu bagi anak-anaknya di rumah. Bahwa untuk bisa menghadapi tantangan kehidupan ekonomi keluarga, kita perlu berpikir keluar dari kotak dan mencari terobosan-terobosan baru. Peluang akan selalu ada dan menanti untuk ditemukan!



Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok edisi no. 5 / Tahun X (17 Juli - 17 Agustus 2009)





Api: Tegas Melawan Diri

(Hasta Brata untuk Ekonomi Keluarga ke-6)

Oleh: Ditto Santoso



Akhir pekan itu Pak Bondet dan istrinya pergi melancong ke salah satu mall yang ada di kotanya. Masuklah pasangan itu ke dalam sebuah gerai perbelanjaan yang menjual segala macam perlengkapan rumah tangga, mulai dari baju-baju hingga alat-alat dapur. Pokoknya super lengkap. Berjalanlah mereka berdua dengan santainya sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba…



“Wuihh, Pak!” kata Bu Bondet setengah berteriak sambil menunjuk ke satu arah. “Lihat ada diskon 70% untuk pembelian wajan anti lengket!”



Pak Bondet yang terkejut mencoba memicingkan mata dan melihat yang dimaksud oleh istrinya. Ternyata benar. Ada rak berisi panci dan wajan antilengket yang sedang memasang tulisan diskon besar-besaran.



“Beli dongngng…” rajuk Bu Bondet. “Mumpung lagi ada diskon nihhh…”



Jreng, jreng, jreng! Walhasil masuklah sepasang suami-istri itu ke dalam toko yang sedang memasang diskon besar itu. Sejurus kemudian mereka sudah keluar dari toko itu dengan wajah yang berseri-seri dengan wajan yang masih kinclong di tangan.



Apa yang bisa dipetik dari cerita singkat ini? Bapak dan Ibu Bondet terpesona dengan unjuk diskon. Padahal, belum tentu wajan yang ditempeli label diskon itu menjadi kebutuhan mereka. Bisa jadi itu hanyalah keinginan sesaat. Oleh para perencana keuangan keluarga, ini disebut “lapar mata” atau “lapar diskon”. Lantas, bagaimana membentengi diri terhadap bentuk-bentuk rayuan yang bisa menggoyahkan sendi-sendi keuangan keluarga ini?



Pengendalian diri menjadi kunci dari dalam diri sendiri untuk tidak mudah termakan rayuan-rayuan dari luar yang berakibat pada terganggunya keuangan keluarga. Filosofi “api” dalam Hasta Brata memberikan pelajaran berharga bagi manusia untuk berani bersikap tegas dan disiplin tidak hanya kepada hal-hal di luar dirinya, melainkan juga didalam dirinya. Kita harus berani berkata “tidak” ketika ada hal-hal diluar kebutuhan tapi sangat provokatif merayu untuk dibeli. Pada zaman yang sangat konsumeristik ini banyak hal yang membuat kita tergoda untuk membuka dompet. Misalnya trend HP model terbaru, sepeda motor merk terbaru, trend model baju, dan lain-lain. Ibarat api, jika tidak tegas, api pun akan “membakar” diri sendiri.



Perwujudan filosofi api diwujudkan dalam perilaku “4D” atau“Empat Disiplin” dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Pertama, disiplin perencanaan. Proses pengelolaan ekonomi keluarga akan berjalan efektif bila tahu tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Disinilah proses perencanaan anggaran keluarga dibutuhkan. Karena anggaran akan menjadi pedoman untuk menjalankan roda pengelolaan ekonomi keluarga.



Disiplin pelaksanaan adalah bentuk disiplin kedua yang perlu diperhatikan. Ada rencana anggaran yang bagus, tapi pada saat pelaksanaan kita tidak lagi disiplin karena mudah tergoda untuk memenuhi keinginan daripada kebutuhan. Akibatnya, terjadi kebocoran anggaran disana-sini. Hal lain yang bisa mengganggu disiplin pelaksanaan ialah tidak konsisten dengan jadual yang dibuat. Misalkan, kegiatan menabung yang bisa dilakukan di awal bulan saat gaji baru diterima, malah ditunda hingga akhir bulan. Biasanya, pada akhir bulan jumlah uang yang akan ditabung sudah berkurang karena terpakai untuk membeli hal-hal lain.



Yakinkah kita bahwa pengeluaran yang sudah dilakukan masih sejalan dengan alokasi yang direncanakan sebelumnya? Tentunya kita harus rajin memantaunya. Disini diperlukan disiplin monitoring. Bagaimana cara melakukan monitoring? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, bila memiliki kartu ATM dan memiliki kebiasaan mengambil uang di ATM, jangan lupa untuk selalu mencetak transaksi di buku rekening untuk mengetahui arus uang keluar dari rekening. Kedua, bila menyimpan uang tunai di rumah, pisahkan dalam amplop-amplop terpisah dimana setiap amplop berisi uang dan ditujukan untuk pos-pos besar tertentu, misalkan belanja bulanan, kesehatan, uang sekolah, biaya PLN/PDAM, dan lain-lain. Bisa juga dilakukan dengan cara lain, membagi atas pos pengeluaran tetap dan tidak tetap dalam 2 amplop. Ketiga, membagi fungsi pengelolaan uang keluar dan lakukan transparansi untuk bisa saling periksa. Misalkan, ayah bertugas memegang dana untuk pendidikan anak dan dana operasional rumah (listrik, air, angsuran rumah), sementara ibu memegang dana untuk pengelolaan dapur (belanja harian/bulanan) dan sosial (iuran RT, arisan, masjid). Keempat, membuat jurnal pengeluaran harian dan memantau arus keluar-masuk uang. Masih ada banyak hal lagi yang bisa dilakukan untuk memonitor atau memantau. Tentu setiap keluarga memiliki kreativitasnya masing-masing.



Disiplin berikutnya ialah disiplin evaluasi. Secara berkala keluarga perlu melakukan evaluasi atas rencana dan realisasi keuangan keluarga. Dari evaluasi tersebut, keluarga bisa merefleksikan atau memperoleh pembelajaran, sejauh mana efektivitas perencanaan keuangannya, sejauh mana pula tujuan-tujuan keuangan bisa dicapai dan bagaimana proses pencapaiannya, apakah lebih banyak terjadi penyimpangan ataukah sejalan dengan yang direncanakan.



Sekarang pertanyaannya, berani atau tidakkah kita bersikap disiplin dan tegas terhadap diri kita sendiri? Itu dulu yang harus dijawab.



Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 4/Tahun X (17 Juni-17 Juli 2009)

Jumat, 10 Juli 2009

THR: Ngga Mesti Habis Kan?

Oleh: Ditto Santoso
“Tunjangan Hari Raya atau THR yang diterima seorang karyawan merupakan penghasilan rutin. Bukan penghasilan tidak terduga alias rejeki nomplok,” demikian seorang konsultan keuangan keluarga pernah berkata. Jadi, seharusnyalah ia menjadi bagian dari perencanaan keuangan rutin, bukan insidentil.

Dalam Permenaker No. 04/1994, disebutkan bahwa perusahaan wajib memberikan THR Keagamaan bagi karyawannya. Setiap karyawan menerimanya secara rutin per tahunnya dan jumlah yang diterima pun sudah ditentukan besarannya. Dengan “status” yang rutin diterima ini, seharusnyalah seorang karyawan sudah bisa merencanakan terlebih dulu, akan dimuarakan kemana dana itu.

Terlepas dari soal kehadiran THR ini signifikan atau tidak dalam keuangan keluarga, yang pasti pengelolaan dan penggunaannya perlu direncanakan terlebih dulu. Salah satu langkah awalnya adalah dengan membuat perencanaan penggunaan uang THR untuk melakukan “kewajiban internal”. Contohnya, memberikan THR kepada pembantu rumah tangga, sopir, keluarga dekat yang membutuhkan (ortu, saudara), atau bahkan berbagi kepada anggota masyarakat di sekitar tempat tinggal yang juga membutuhkan dana untuk berhari raya tetapi nasibnya kurang beruntung.

Berikutnya, janganlah lupa menyisihkan sebagian uang THR untuk ditabung sebagai dana darurat. Tabungan darurat ini memang bukan merupakan bentuk investasi, melainkan untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal yang kurang diinginkan selama masa hari raya. Contohnya, ada anggota keluarga yang sakit pada saat perjalanan mudik. Dengan demikian, bentuknya bisa berupa dana tunai yang bisa diakses sewaktu-waktu (dalam perjalanan atau ketika sedang berada di desa terpencil) atau yang tersimpan dalam rekening bank yang ATM-nya mudah ditemukan dimana-mana.

Anda juga perlu membuat daftar barang yang diperlukan pada saat hari raya. Seperti kue atau makanan ringan yang disajikan bagi sanak-keluarga atau relasi yang berkunjung ke rumah. Bahkan jika tidak sempat bersilaturahmi secara fisik, mungkin via berkirim kartu, SMS, atau email. Bukankah itu membutuhkan alokasi dana juga? Ingatlah untuk tidak “lapar mata” manakala berbelanja. Prioritaskan mana yang menjadi kebutuhan, dan mana yang hanya keinginan saja. Jika Anda juga bermaksud membeli barang-barang kebutuhan pokok, sebaiknya hindari berbelanja mendekati masa-masa hari raya, karena hampir dapat dipastikan harganya sedang terkerek naik.

Mungkin perlu menjadi masukan juga, bahwa saat menerima uang THR merupakan saat yang tepat pula untuk menutup atau paling tidak mengurangi kewajiban Anda. Kewajiban ini bisa berupa angsuran kredit atau tagihan-tagihan lainnya. Mengapa? Karena ketika Anda sedang berniat melakukan penghematan, maka gaji bulanan pun masih dapat dioptimalkan. Bukankah dalam bulan-bulan lainnya juga terjadi seperti itu? Janganlah menggunakan even hari raya sebagai momentum untuk kembali menambah hutang, dengan alasan modal untuk mudik.

Terakhir, jika masih terdapat kelebihan dari uang THR yang telah Anda belanjakan sesuai perencanaan yang Anda buat, sebaiknya manfaatkanlah sisa dana tersebut untuk ditabung atau diinvestasikan. Hari raya bisa Anda nikmati, kemerdekaan finansial pun kelak akan Anda nikmati juga. Anda setuju?


Dimuat dalam Buletin Info Bina Swadaya edisi 240/Tahun XX/November 2005 (diolah dari Tabloid Bisnis Uang No. 11 / 23 Desember 2004 - 5 Januari 2005)


Selasa, 30 Juni 2009

7 Jurus Pensiun Bergaya

Oleh: Ditto Santoso


Tidak semua orang bisa memasuki masa pensiunnya dengan mulus, meskipun pensiun itu terjadi secara normal, bukan pensiun dini atau memilih pensiun untuk berkarya sebagai wirausaha. Itulah kondisi yang sering ditemukan pada orang tua kita atau mungkin diri kita pada 5, 10, atau 20 tahun lagi. Masih banyak orang yang memandang “pensiun” merupakan akhir dari segalanya. Pensiun berarti tidak lagi bisa berkuasa (post power syndrome), pegang duit banyak, atau merasa jatuh status sosialnya.


Terlintas dalam benak saya. Bagaimana mengurangi kegamangan-kegamangan tersebut selagi masih jauh dari masanya. Kalau toh sudah berada pada masanya, mungkin bisa menyetel pola pikir dan hidupnya agar tetap positif dan dinamis hingga tetap bisa menikmati hidup. Untuk itu, lagi-lagi terlintas dalam benak saya sebuah gagasan yang dinamakan “pesantren”. Artinya, “pensiunan santai tapi sejahtera dan keren”. Sesudah pensiun, hidup bisa santai tanpa harus bersusah-payah bekerja, sejahtera jasmani-rohani, tetap terlihat keren. Bagaimana menjadi orang “pesantren” nantinya, terdapat setidaknya 7 jurus jitu yang disebut “7S”.


Syukur. Rasa syukur atas segala karunia Tuhan atas hidup ini merupakan dasar dari semua proses kehidupan. Bersyukur, ikhlas, menerima dengan ridha atas kehidupan terbaik yang sudah diberikan Tuhan. Mungkin kita perlu menengok ke sekeliling. Bukankah kita masih lebih baik dibandingkan mereka yang hingga tua hanya hidup di pinggir jalan atau mereka yang tua-kaya namun dipenjara karena korupsi?


Sadar. Rasa syukur perlu diimbangi dengan sebuah kesadaran bahwa hidup belumlah berakhir. Hidup di dunia fana ini baru berakhir pada saat Tuhan memanggil kita. Dengan demikian, masih ada (banyak!) hal positif yang mungkin bisa dilakukan. Misalkan: bersenang-senang dengan cucu, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi selama kita bekerja 30 tahun terakhir, bulan madu yang kesekian kalinya, atau apa lagi? Life still goes on


Setting. Bagi yang sudah pensiun, apa yang telah direncanakan untuk mengisi waktu luang? Bagi yang masih jauh dari pensiun, apa yang perlu dipersiapkan agar bisa menjadi orang “pesantren” ini? Jika saat ini kita masih dalam usia produktif, maka sangatlah positif jika sejak jauh-jauh hari sudah memiliki kesadaran untuk mempersiapkan masa-masa tersebut. Toh, kita tidak ingin membebani anak-cucu kita nantinya. Lho, bukankah perusahaan sudah memfasilitasi dana pensiun internal dan Jamsostek? Terima kasih bagi perusahaan yang sadar betul untuk menghargai kerja keras dan loyalitas karyawannya. Namun, akan jadi lebih baik, apabila kita juga memiliki alternatif lain di luar skema yang sudah disediakan oleh perusahaan. Apa bentuknya? Tentu saja bisa bermacam-macam. Artinya, kita sudah mempersiapkan hal-hal yang berpotensi menunjang kehidupan pensiun tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orang lain. Jurus ke-4 dan ke-5 akan berbicara mengenai hal-hal minimal yang perlu dipersiapkan sebagai alternatif selain skema dana pensiun perusahaan.


Saving. Apa yang sudah dipersiapkan secara finansial untuk menghadapi masa pensiun? Topik finansial merupakan topik yang selalu hangat dibicarakan pasca pensiun. Umumnya orang yang sudah pensiun merasa powerless (tidak memiliki daya), karena dia tidak memegang cukup uang untuk biaya hidup. Untuk itulah, selagi usia masih produktif, usahakan untuk selalu menabung. Buatlah skema tabungan tersendiri yang khusus bertujuan untuk mengumpulkan dana pensiun dan tidak akan pernah ditarik hingga saat pensiun. Carilah peluang-peluang untuk bisa memperbesar pilar tabungan. Dan Benson (2000), seorang konsultan keuangan, menyebutkan bahwa “menabung” adalah “suatu tindakan untuk menyisihkan uang untuk masa depan”. Menabung merupakan langkah awal menuju “investasi”, yaitu “membuat uang bertumbuh seiring waktu”. Pada jurus ke-4 ini, saya melekatkan “investasi” sebagai satu bentuk terobosan dari “tabungan konvensional”. Jadi, untuk menabung, tidak harus dibentukkan dalam tabungan harian biasa, melainkan juga bisa dalam bentuk-bentuk investasi seperti deposito, reksadana, atau asuransi (juga memiliki fungsi sebagai alat proteksi). Bingung? Cobalah berkonsultasi dengan konsultan perencanaan keuangan keluarga jika diperlukan. Namun, tantangan terbesar ialah membangun kebiasaan menabung itu sendiri. Saya meminjam istilah 3M dari A’a Gym, “Mulailah dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulailah sekarang”. So? Jika Anda masih dalam usia produktif, mulailah menabung untuk pensiun sekarang juga!


aSet produktif. Apa yang kita punyai untuk bisa bertahan hidup? Mobil? Sepeda motor? Gudang yang kosong? Cobalah tengok sekeliling. Adakah barang-barang yang bisa dioptimalkan fungsinya? Mungkin hari ini, kita melihatnya biasa-biasa saja. Tapi, suatu hari nanti, mungkin barang-barang itu menjadi amat sangat berharga. Mobil yang menganggur waktu pensiun tidak akan menghasilkan, kecuali jika “dikaryakan”. Misalnya dengan menggunakan mobil itu untuk berjualan (misal: berjualan kue dengan memanfaatkan kabin belakang mobil) atau sebagai mobil antar-jemput anak sekolah. Garasi yang tak terawat bisa disulap menjadi toko kecil, warung makan, atau tempat kursus Bahasa Inggris untuk anak-anak. Bagaimana pula dengan hobi yang masih digeluti, bisakah dioptimalkan untuk menghasilkan sesuatu yang produktif? Apa yang mungkin terjadi jika hobi menulis dikawinkan dengan peluang adanya teman yang bekerja di penerbitan? Apa hasilnya jika lahan kosong 100 m2 mulai dari sekarang dicicil untuk membuat rumah-rumah petak yang bisa dikontrakkan nantinya? Ternyata banyak sekali aset di sekitar kita yang ibaratnya “macan tidur” sedang menunggu untuk dibangunkan. Tengok kiri-kanan dan mulailah mencari.


Silaturahmi. Merasa tidak lagi berharga di mata teman-teman atau kerabat karena sudah menjadi pensiunan? Mari menjadikan masa pensiun sebagai tahap baru untuk menjalani hidup secara positif. Tetap gaul, karena silaturahmi konon merupakan satu cara untuk menyehatkan diri dan memperpanjang umur. Aktif dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan atau sosial-kemanusiaan juga merupakan salah satu cara untuk memperluas silaturahmi.


Sehat. Dan ujung-ujungnya adalah kesehatan. Apa maknanya pensiun yang merdeka secara sosial dan finansial jika tidak didukung oleh badan-jiwa yang sehat? Semuanya menjadi tak bermakna lagi. Dan memelihara kesehatan itupun, sebagaimana kita mempersiapkan kemerdekaan finansial saat pensiun, juga harus dicicil mulai sekarang.


Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan diri kita menjadi “orang pesantren”!
Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 3/Tahun X (17 Mei-17 Juni 2009)

Air

Hasta brata ekonomi keluarga (5)

Oleh: Ditto Santoso



Pria pertengahan tiga puluhan itu melangkah gontai melintasi pagar rumahnya. Ia berjalan ke arah perempatan yang tidak begitu jauh dari rumah tipe 36 huniannya 3 tahun terakhir bersama istri dan anaknya. Angin berhembus pelan mengiringi langkahnya. Dibarengi suara jangkrik dan sesekali terdengar lolongan anjing. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Malam Jumat kliwon.

Di warung itu tampaklah beberapa orang sedang duduk mengobrol sambil menikmati kopi.

“Yuk, Pak Suko. Gabung ngopi disini,” ajak salah satu yang sudah duduk disana. “Kok lesu banget? Lagi ribut sama ibunya anak-anak?”

“Lha iyalah… masak ya iya dong,” sahut pria lain yang duduk di sampingnya.

Pria yang bernama Pak Suko itupun duduk. Ia pun menghela nafas panjang. Sesaat kemudian ia memesan secangkir kopi. Sambil menyambar sepotong pisang goreng ia pun buka suara.

“Biasalah. Krisis rumah tangga. Mana istriku banyak menuntut beli ini-itu, padahal duit juga pas-pasan buat kebutuhan yang penting. Kan di masa krisis ekonomi seperti sekarang ini kita harus punya tabungan. Eee malah dia maunya beli ini-itu,” kata Pak Suko.

“Jadilah ribut terus hampir tiap hari. Tanggal muda tanggal tua sama saja,” lanjutnya lagi sembari menerima secangkir kopi pesanannya. “Jadi suntuk kalau di rumah. Mending nongkrong di sini saja.”


“Kenapa harus bersuntuk-suntuk dengan orang yang seharusnya bisa berbagi kesuntukan itu?” terdengar sebuah suara berat dan berwibawa dari sudut meja.


Semua yang nongkrong di warung itupun menoleh ke arah sumber suara. Di ujung sana tampak seseorang berambut panjang dan gondrong sebahu yang tengah duduk sambil memegang secangkir kopi. Ia menundukkan kepala sehingga rambut panjang terurai menutupi wajahnya. Di tengah lampu yang temaram tampak ia mengenakan baju surjan (baju lurik a la warga pedesaan di Jawa).


“Wah, Bapak ini siapa ya? Mohon maaf. Apakah saya kenal? Apakah Bapak tahu apa yang saya alami?” tanya Pak Suko setengah penasaran.


Orang berambut panjang itupun mendongakkan kepalanya. Rambutnya sedikit tersibak. Tampaklah ia berwajah bersih dengan kacamata bulat kecil bertengger di atas hidungnya. Jadi mirip dengan John Lennon saat the Beatles sedang ngetop dulu. Sejumput jenggot menghiasi dagunya. Usianya sepertinya antara 40-50 tahunan.


“Saya Ki Joko GP. Saya melihat bahwa Bapak ini punya masalah dengan istrinya,” kata orang berambut panjang itu pelan.


Pak Suko pun mengerutkan keningnya. Wah, orang pintar ini rupanya. Bisakah permasalahanku dipecahkan dengan bantuannya?


“Apa lagi yang Bapak tahu?” tanyanya kemudian. Orang lain yang sedang nongkrong di warung itu mulai memusatkan perhatian pada laki-laki beramput panjang yang bernama Ki Joko GP itu.


“Bapak yang baik, apakah yang Anda ributkan dengan istri itu perkara duit?” tanyanya.


“Betul, Ki Joko!” kata Pak Suko tegas. “Gaji saya yang tak seberapa ini baru naik sedikit saja, istri saya sudah minta macam-macam. Beli ini, beli itu. Padahal kan lebih baik ditabung dulu biar beranak-pinak yang banyak?!”


Sembari tersenyum Ki Joko GP mengelus jenggotnya.


“Kalau boleh mengira, pastilah Bapak tidak pernah menyampaikan ide Bapak itu sebelumnya kepada istri?” tanyanya kemudian yang ditanggapi oleh Pak Suko dengan anggukan pelan.


Ki Joko GP menarik nafas panjang. Ia kemudian menggeser segelas air putih yang ada di dekatnya ke arah yang lebih dekat dengan Pak Suko dan orang-orang yang duduk di sekitarnya.


“Lihatlah gelas ini. Lihatlah air didalamnya. Bening dan tenang,” kata Ki Joko GP. “Ketika orang memasukkan gula ke dalamnya, ia pun menerima. Ketika diaduk, air pun bercampur dengan gula. Hasilnya? Tentu saja rasanya manis.”


“Maksudnya, Ki?” tanya salah seorang pria disamping Pak Suko mulai antusias.


“Air adalah salah satu unsur alam yang bisa dipelajari dari Hasta Brata. Sifatnya yang cair, membuat ia sering menjadi media untuk melarutkan apa saja, misalnya teh, kopi, ataupun obat puyer. Karena sifat cairnya itulah, ia mudah berinteraksi dengan unsur-unsur alam lainnya.”


Ki Joko GP berhenti sejenak. Ia menyeruput wedang kopinya sebelum melanjutkan.


“Demikian pula halnya dengan berkomunikasi dengan pasangan hidup kita. Ibarat air, komunikasi pun harus bersifat cair. Mengapa? Agar ada ruang dimana salah satunya bisa mendengarkan yang lain. Bukankah inti dari komunikasi itu adalah mendengarkan?” katanya.

“Pengelolaan ekonomi keluarga pun harus dilandasi komunikasi positif antara suami-istri. Segalanya perlu dibicarakan bersama. Karena, keduanya setara dalam hal pengelolaan ekonomi keluarga. Kesetaraan itu, salah satunya diwujudkan dengan tidak adanya pembedaan. Misalnya, suami minta ‘jatah’ duit lanang atau uang laki-laki. Sementara istri tidak punya hak untuk itu.”


Semua seolah terpana dan memperoleh pencerahan dari laki-laki bernama Ki Joko GP itu.


“Air juga menjadi penyegar di kala kehausan. Kekeringan dalam keuangan keluarga pun dapat disegarkan manakala itu dikomunikasikan dengan baik pula. Suami akan paham dan istri pun akan mengerti. Ini semua bisa terwujud apabila terjadi komunikasi dialogis untuk perencanaan dan pengelolaan ekonomi keluarga. Dialog atau proses komunikasi dua arah baru bisa tercapai jika suami maupun istri sama-sama memiliki posisi yang setara. Ibarat air yang permukaannya selalu rata.”


Pak Suko pun melongo mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Ki Joko GP. Komunikasi intensif di antara suami-istri perlu menjadi landasan dalam pengelolaan ekonomi keluarga. “Jika aku sudah menyampaikan ideku kepada istriku sebelumnya mengenai pemanfaatan uang gajiku, mungkin kami tidak akan ribut seperti ini. Jika aku mau mengembangkan komunikasi yang dialogis, mungkin buah pikiran kami berdua bisa menghasilkan ide yang lebih cemerlang,” demikian terbersit dalam pikirannya.


Ia pun bermaksud menanyakan lebih lanjut. “Lalu, Ki, bagaimana dengan…”


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.


“Lho dimana Ki Joko GP tadi?” tanyanya pada orang yang duduk di sebelahnya.


“Ki Joko siapa? Dari tadi Pak Suko duduk melamun disitu kok,” jawab orang di sebelahnya. “Tuh, kopinya sampai dingin…”


Pak Suko pun terbengong-bengong. Lantas, siapa tadi yang berbicara di hadapannya? Dimana orang bernama Ki Joko GP itu sekarang? Dia sama sekali tidak habis pikir. Ada pencerahan aneh yang diperolehnya dari sosok “Ki Joko GP” yang datang tak dijemput pulang tak diantar.


Sementara angin malam berhembus makin kencang. Malam Jumat kliwon pun semakin kelam diiringi lolongan anjing di kejauhan…

Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati Depok Edisi No. 3/Tahun X (17 Mei-17 Juni 2009)

Kamis, 04 Juni 2009

Matahari: Menjadi inspirasi bagi buah hati

(Tulisan ke-4 dari 8 seri tulisan)



Oleh: Ditto Santoso



Beberapa hari ini saya cukup repot menghadapi “jagoan-jagoan” saya di rumah. Mereka suka sekali bermain-main dengan uang logam pecahan 100 hingga 500 rupiah. Biasanya uang logam ini diperoleh dari kembalian istri saya berbelanja. Sepintas saya amati, keduanya menirukan peristiwa saat ibunya berbelanja di tukang sayur. Si kecil berperan sebagai “tukang sayur”, sedangkan kakaknya berperan sebagai “pembeli”. Lucu juga. Apakah ini juga bisa menjadi bagian dari pendidikan keuangan dini untuk anak, khususnya pengenalan akan uang? Hmm…

Pendidikan keuangan dini bagi anak merupakan salah satu aspek pendidikan yang penting bagi anak. Bukan soal usia dini sudah diajari bagaimana membuat jurnal keluar-masuk uang, melainkan lebih pada pembentukan karakter serta sifat pada menghargai dan mengelola uang secara cerdas. Orang tua adalah figur yang diharapkan bisa memberikan pendidikan keuangan dini bagi anak, karena pertama-tama mereka sosok terdekat dengan anak. Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia belum memasukkan pendidikan keuangan dini sebagai bagian dari kurikulum. Sementara di negara-negara tetangga seperti Australia, Singapura, dan Malaysia topik ini sudah masuk dalam kurikulum. Sempat terpikir oleh saya, apakah rapuhnya kecerdasan finansial di keluarga yang membuat keluarga-keluarga Indonesia menjadi rentan dan mudah terobrak-abrik oleh krisis ekonomi 1998?

Filosofi berperilaku bagai matahari yang tercantum dalam Hasta Brata dapat menjadi salah satu pijakan bagi orang tua dalam melakukan pendidikan keuangan dini bagi anak. Salah satu sifat utama matahari ialah memberikan terang bagi sekelilingnya tanpa pandang bulu. Dalam hal pendidikan keuangan dini bagi anak, orang tua pun perlu berperilaku sebagai “pemberi terang” ibarat matahari. Dengan sabar dan tanpa kenal lelah, membangun karakter anak mengenai pengelolaan keuangan. Saya jadi teringat kejadian sewaktu saya masih berusia SD. Ibu saya memberikan sebuah buku agenda kecil kepada saya. Ia meminta saya menuliskan pemasukan yang saya peroleh (dari uang saku tentunya) serta pengeluaran yang dilakukan untuk jajan maupun ditabung. Lalu, di sekolah ada teman yang menertawai saya dengan mengatakan, “Agenda kok dipakai buat menghitung uang keluar-masuk?” Meskipun demikian, ibu saya juga dengan sabar menanamkan disiplin kepada saya agar mencatat hal-hal yang dimaksud tadi.

Sifat matahari lain yang penting ialah menjadi inspirator. Banyak puisi, lagu, atau pelatihan-pelatihan motivasional yang mengambil contoh matahari sebagai salah satu unsur alam yang patut diteladani. Ia selalu terbit dan tenggelam tanpa harus diminta. Sekian milyar tahun menyinari dunia tanpa sebentar pun absen. Ia menjadi sumber inspirasi bagi insan Tuhan di jagad ini. Ibarat matahari sang sumber inspirasi, orang tua pun harus menjadi inspirator dalam pendidikan keuangan dini bagi anak. Menjadi inspirator tidak hanya memberikan ajaran baik melainkan juga menjadi panutan (role model) bagi anak dalam mengelola keuangannya. Sejak anak-anak masih kecil, saya juga berupaya menanamkan kepada mereka agar disiplin menabung. Tidak jarang saya mengajak anak-anak untuk pergi menabung di koperasi meskipun mereka masih malu-malu. Sekadar membiasakan. Sekarang, setiap kali mereka melihat saya sedang memegang uang, pertanyaannya selalu “Uangnya mau ditabung, Pa? Buat sekolah Kakak nanti? Nabungnya di koperasi ya?” (terlontar dari mulut anak yang belum genap berusia 4 tahun). Saya berharap suatu saat nanti mereka juga akan mengingatkan, “Pa, kok kita sudah lama ngga pergi menabung?”

Sifat ketiga matahari ialah sifat kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang disampaikan dengan penuh kehangatan tentunya akan membuat orang yang menerimanya merasa diorangkan. Mengajarkan kepada anak bagaimana membuat pilihan yang bijak tidaklah mudah. Saat ini saya dan istri juga direpotkan oleh anak-anak yang mulai terpengaruh teman-teman sekitarnya yang suka jajan. Di waktu inilah kami sedang mencoba memfasilitasi proses mereka untuk belajar membuat pilihan. Ingin membeli permen atau VCD “Thomas and Friends”? Bukan proses yang cepat dan mudah. Kelak mereka juga akan dihadapkan pada realitas untuk memilih antara kebutuhan dan keinginan, memilih di antara segala keterbatasan. Proses pembelajaran itu bisa dimulai sekarang.

Menjadikan matahari sebagai sumber filosofi yang melandasi pendidikan keuangan dini bagi anak hanyalah satu pintu saja. Setiap orang bisa masuk dari pintu berbeda untuk dapat mendidik dan mengembangkan kecerdasan finansial anak-anaknya. Pada akhirnya anak tetap merupakan sosok yang merdeka dalam mengambil keputusan dalam kehidupannya kelak.

Tulisan sederhana ini saya tutup dengan sebuah pesan SMS dari seorang sahabat saya saat anak pertama kami lahir. Pesan ini selalu terngiang hingga sekarang dan menjadi salah satu pegangan saya untuk mengiringi proses pembelajaran anak-anak. “Anak adalah murid sekaligus guru terbaik bagi orang tuanya”. Berkaca dari uraian pengalaman di atas, sepertinya memang demikian adanya.


Artikel dimuat di Buletin Kopdit Melati-Depok edisi No. 2/Tahun X (17 April-17 Mei 2009)